<![CDATA[Ario sasongko - Cerita Pendek]]>Wed, 09 Mar 2016 16:51:28 -0800Weebly<![CDATA[Satu Bangku di Pojok Ruangan]]>Thu, 10 Sep 2015 11:20:20 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/cerita-pendek/-satu-bangku-di-pojok-ruangan “Kamu Nata, ya?”

Tiba-tiba saja seorang pramusaji menanyakan itu setelah mendengar menu yang Nata minta. Dengan hanya menyediakan dua menu, ia memang tak perlu mencatat menu pesanan pengunjung. Nata mengerutkan dahinya, ia belum pernah bertemu orang asing yang tiba-tiba saja mengenali dirinya. Pramusaji ini seorang perempuan, sepertinya beberapa tahun lebih muda dari Nata. Rambutnya ikal diikat ke belakang. Ia mengenakan apron cokelat dengan motif kotak-kotak.

“Ya, benar. Bagaimana kau tahu namaku?”
“Aku sering membaca tulisan di websitemu. Bajingan.”

***

Nata sudah memutuskan apa yang ingin ia lakukan, dua hari sebelum meninggalkan pekerjaannya sekarang. Niatan ini bermula ketika pada suatu malam di sebuah kafe, ia kehabisan topik pembicaraan saat sedang berdua dengan teman kencannya. Perempuan itu, yang sejak awal memang terlihat terlalu cantik untuk Nata, sibuk memeriksa telepon genggam meski tak mengeluarkan bunyi apapun. Tindakan seperti ini umum dikenal sebagai simbol kencan yang gagal. Tak ada yang bisa Nata lakukan, kecuali antara diam dan melihat keadaan sekitarnya, atau melanjutkan perbincangan yang dipaksakan. Ia memilih yang pertama. Nata mulai memerhatikan kekurangan-kekurangan yang ia temui di kafe itu.

“Bangku ini terasa kurang nyaman. Barangkali ini yang membuat kencanku gagal. Suasana nyaman punya andil sekitar 80% dalam keberhasilan kencan.”

Dari sana, pandangan kritis Nata mulai mengalir. Dengan cepat ia bisa menemukan hal-hal yang dengan mudah ia kritisi tentang kafe itu. Persis seperti seorang kritikus film yang dapat dengan tajam menelaah elemen naratif dan visual. Nata merasa menemukan bakat yang tak ia sadari selama ini. Ketika itulah gagasan ini muncul di pikirannya. 

 

Seperti sebelas kencan sebelumnya, kencannya malam itu gagal. Meski demikian, Nata menemukan semangat baru. Ada gairah yang mencuat dalam dirinya. Gairah ini, sangat disayangkan, bukan akibat pengalaman fisik yang tak pernah terjadi dengan sebelas teman kencannya. Bukan pula datang dari mantan kekasihnya, yang empat bulan lalu meninggalkannya. Melainkan datang dari keinginan yang kemudian ia tulis dalam pesan singkat untuk dikirim pada mantan kekasihnya. “Aku ingin menjadi kritikus kafe profesional.”

Nata merasa mendapatkan jawaban atas masalah yang ia temukan sejak empat bulan lalu. Kala itu, ia hanya ingin bersikap spontan. Ia sadar bahwa kekasihnya sudah mulai terlihat jenuh. Dari artikel yang ia baca melalui telepon genggam—di sela-sela jam istirahat makan siang—kejenuhan dalam hubungan bisa diatasi dengan mengalami peristiwa-persitiwa tak terduga bersama pasangan. Ia kemudian memutuskan untuk diam-diam menunggu dengan seikat bunga mawar di depan rumah kekasihnya itu. Hatinya berdebar, bukan karena takut jika kejutannya gagal. Ia hanya takut tak bisa menemui kekasihnya karena sebelumnya tak membuat janji bertemu.

Dalam ketakutannya itu, kemudian Nata melihat kekasihnya tiba di depan rumah seorang diri. Nata kemudian menghampirinya, berlutut dan memberikan bunga, persis seperti hendak melamar. Kekasihnya itu tentu terkejut, memeluk Nata dengan erat dan mengucapkan terima kasih. Mereka berpandangan untuk beberapa saat, sebelum kemudian berciuman dan berpisah.

“Aku butuh variasi. Pekerjaanmu telah membuatmu jadi orang yang membosankan dan monoton.”
Demikianlah penjelasan yang esok harinya Nata dapatkan saat kekasihnya tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan.  

Nata tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Ia mulai menyadari bahwa barangkali mantan kekasihnya benar. Sebagai seorang pegawai bank, ia punya rutinitas yang sudah ia jalani bertahun-tahun. Bangun pagi, berangkat kerja menaiki bus bersama pekerja kantoran lainnya, bekerja sampai sore, kemudian pulang dengan kembali menaiki bus bersama pekerja kantoran lainnya, membeli makan malam, istirahat, kemudian mengulang rutinitas itu pada pagi selanjutnya. Sejak itu, kadang Nata menyadari bahwa selama bertahun-tahun ia berjalan kaki di bagian trotoar yang sama. Ketika berada di dalam bus, ia menyadari tak menyenangkannya wajah para pekerja kantoran sepertinya. Mereka semua terlihat kaku, dengan mata yang sayu dan wajah yang menunjukkan ketidakpuasan atas hidup.

Nata tak ingin berakhir menjadi manusia yang seperti itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mulai memikirkan definisinya sebagai manusia. Keinginan untuk berhenti bekerja mulai muncul sejak itu. Ia mulai mencari inspriasi melalui artikel di telepon genggam—yang lagi-lagi ia baca di sela-sela jam istirahat makan siang. Ia ingin melakukan hal-hal yang mengesankan seperti misalnya, membuat bar jazz dan menjadi penulis. Tapi hal seperti itu tentu tak bisa dilakukan semudah yang terlihat. Lagipula ia tak mengerti sastra.

Malam ini, akhirnya ia mendapatkan jawaban yang ia cari.

***

Selama dua tahun bekerja sebagai kritikus kafe profesional, baru kali ini Nata menemukan sebuah kafe yang demikian berbeda. Setiap meja hanya memiliki satu kursi. Tempat ini hanya menyediakan kopi Mandailing, dan roti manis yang terbuat dari campuran gandum dan gula merah. Pemiliknya tentu sangat percaya diri dengan kualitas menu yang ia sediakan, sehingga pengunjung tak mendapat pilihan selain dari itu. Nata duduk di pojok ruangan, tempat yang menurutnya paling strategis untuk mengamati situasi. Biasanya ia bisa memerhatikan pengunjung lain dari pojok ruangan tersebut. Malam ini ada beberapa pengunjung yang duduk sendiri di tempat masing-masing. Tak ada seorangpun dari mereka yang tampak saling berbicara. Mereka tampak seperti hanya melamun dan menikmati menu yang mereka pesan. Tak ada keluhan dari wajah mereka, seperti memang ingin datang ke tempat ini untuk diam.

“Kamu Nata, ya?”

Tiba-tiba saja seorang pramusaji menanyakan itu setelah mendengar menu yang Nata minta. Dengan hanya dua menu, ia memang tak perlu mencatat menu pesanan pengunjung. Nata mengerutkan dahinya, ia belum pernah bertemu orang asing yang tiba-tiba saja mengenali dirinya. Pramusaji ini seorang perempuan, sepertinya beberapa tahun lebih muda dari Nata. Rambutnya ikal diikat ke belakang. Ia mengenakan apron cokelat dengan motif kotak-kotak.

“Ya, benar. Bagaimana kau tahu namaku?”
“Aku sering membaca tulisan di websitemu. Bajingan.”

Pramusaji itu pergi ke balik bar, menyiapkan kopi dan roti yang Nata pesan. Tak lama kemudian ia kembali menyuguhkan pesanan tersebut, dan duduk di meja sebelah Nata. Ia membakar sebatang rokok, dan memerhatikan Nata baik-baik.

“Aku ingin melihat wajahmu, saat kau menuliskan hal tak menyenangkan tentang kafe ini.”

Nata belum pernah mengalami hal seperti ini. Jika ia bisa mengambil pelajaran, setelah ini harusnya ia segera menghapus foto wajahnya di website tempat ia menulis kritikan kafe yang ia kunjungi. Nata tak bisa menghilangkan rasa canggung karena diamati demikian lekat. Ia memutuskan untuk mencoba roti manisnya terlebih dahulu. Dilihat dari bentuk fisiknya, roti ini terasa agak keras ketika dipotong, biasanya sengaja dibuat seperti itu agar seseorang bisa merasakan tekstur roti ini ketika mengunyahnya. Roti ini terasa sangat asin. Ketika diperhatikan, Nata melihat taburan garam di atasnya.

“Apa kau bisa tidur nyenyak karena telah mendapat uang dengan cara menghakimi kerja keras orang lain?”
Nata tak siap menjawabnya. Ia  memutuskan untuk meneguk secangkir kopi yang sudah ia pesan. Kopi ini terasa aneh, Nata hampir memuntahkannya.
“Aku telah mencampur kopi itu dengan garam. Aku ingin tahu bagaimana kau menuliskannya nanti.”

Nata mengamati wajah perempuan itu.

“Hanya ada dua pilihan, antara kamu adalah pegawai yang sudah berniat ganti pekerjaan, atau kamu adalah pemilik tempat ini.”
“Kau tak perlu tahu.”
Nata kembali mengambil cangkir kopinya. Ia tatap kedua mata perempuan itu lekat-lekat.
“Bagaimana kalau kita buat perjanjian. Jika aku bisa menghabiskan kopi ini, aku boleh berkenalan denganmu. Setuju?”

Malam itu Nata tak pulang ke tempatnya.

***

Nata duduk di pojok ruangan yang sama. Ia menikmati roti manis dan kopi Mandailing, yang kali ini keduanya tak dicampur garam. Pramusaji itu duduk di meja sebelahnya, persis seperti ketika pertama mereka bertemu. Sejak hari itu, Nata mengetahui bahwa ia bernama Talia. Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, ia mulai mengetahui bahwa perempuan itu mendapat nama yang demikian karena ibunya sangat mengagumi seorang artis telenovela. Meski pada kelanjutannya, ibunya itu baru menyadari bahwa ejaan nama anaknya kekurangan huruf ‘h’.

“Kau masih tak mau mengubah tempat ini?”
“Tidak jika hanya untuk mengubah opinimu saja.”
“Kau tahu, aku kritikus profesional. Aku tak mungkin membuat pujian yang.”
“Aku memang tak butuh pujianmu.” Talia memotong ucapan Nata begitu saja.

Nata kembali menikmati roti manisnya.

“Menurutku kafe adalah tempat yang dicari seseorang, untuk berbicara. Kau tahu, berapa banyak gagasan besar yang muncul dari kafe di Paris?”

Semenjak menjadi kritikus profesional, Nata banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku-buku filsafat. Hal yang sebelumnya tak pernah terpikir untuk ia lakukan. Menurutnya, referensi konsep-konsep rumit bisa membuat tulisannya menjadi lebih ilmiah.

“Bagaimana dengan orang-orang yang memang mencari tempat untuk merasa kesepian dengan nyaman?”

Nata memerhatikan suasana tempat itu kembali. Semua orang duduk sendiri, hanya diam dan menikmati kopi mereka masing-masing. Pencahayaan yang kecokelatan, dan samar-samar musik keroncong, membuat suasana sepi menjadi terlalu nyaman. Mereka yang ada di sini, seperti berkumpul untuk menunjukkan kesepian masing-masing.

“Nata, apa kau pernah melihat orang yang hanya seorang diri di keramaian? Apa kau pernah memikirkan bagaimana sepi yang ia rasakan saat itu? Tidak kau pikir, banyak orang di kota besar seperti ini, butuh tempat untuk merasa kesepian dengan nyaman?”

Nata sebenarnya sangat bisa menjawab pertanyaan itu, namun ia memutuskan untuk diam.

“Pekerjaanmu sebagai kritikus. Tentu kau adalah orang yang kesepian. Tak ada kritikus yang tidak kesepian.”
“Kau sendiri, apa kau tak kesepian dengan suasana seperti ini. “
“Setiap hari berada di antara orang-orang yang kesepian, memberikan aku banyak waktu luang untuk berpikir. Kadang sampai bisa mengarang cerita di dalam hati ketika memandangi satu-satu wajah mereka.”
“Talia, kau pernah mengarang cerita, ketika memandang wajahku?”
“Ya.”
“Kapan itu?”
“Saat pertama kali bertemu.” Talia memandang Nata persis di kedua matanya, dan melanjutkan ucapannnya.
“Saat itu aku demikian benci denganmu, sampai aku membayangkan untuk menyetubuhimu dengan puas. Setelahnya, aku tak perlu mengarang cerita seperti itu tentangmu lagi. Kau tahu alasannya.”

Nata tak menunjukkan perubahan ekspresi apa pun. Sejujurnya, saat pertama bertemu juga ia memikirkan hal yang sama.

“Talia, kali ini kita pulang ke tempatmu saja.”

Malam itu, Nata baru benar-benar menyadari kesepiannya. Meski seperti biasa, ia dan Talia berpadu dengan penuh gairah di atas ranjang, namun Nata bisa merasakan sepi itu dari lenguhan napas mereka masing-masing. Segala sentuhan yang ia rasakan, seperti tak bisa memenuhi kehampaan dalam dirinya. Tubuh Talia, seperti sebuah vas kosong, yang ia sentuh untuk dapat merasakan keindahannya. Namun sebuah vas, bagaimana pun indahnya, tak akan seindah ketika menampung bunga.

***

Nata tak pernah bisa meninggalkan kafe ini. Tiap hari, setelah datang ke beberapa kafe lain, ia selalu mengakhiri perjalanannya di tempat ini. Menikmati roti manis dan kopi Mandailing.

“Nata, malam ini aku ingin kembali ke tempatmu saja.”

Nata mengangguk tanpa mengucapkan apapun sambil menghirup kopi di mejanya. Nata melanjutkan.

“Mengapa tak kau pindahkan saja kursimu ke mejaku?”
“Aku tak ingin.” Talia menjawab itu, kemudian mengembuskan asap rokoknya.
“Kau ini, monoton sekali.”

Talia menggelengkan kepalanya.

“Dulu ada orang yang justru menganggap sebaliknya, akhirnya ia meninggalkanku. Barangkali kau juga.”
“Maksudmu?”

Talia adalah perempuan yang tak mudah bercerita tentang dirinya ketika diminta. Sebaliknya, kadang ia akan menceritakannya tanpa diminta. Nata tak pernah memahami bagaimana mekanisme kerja sikapnya tersebut. Berbanding terbalik dengan apa yang ia sajikan, Talia memiliki menu kepribadian yang tak mudah diterka.

“Seseorang meninggalkanku karena ia menganggap aku sudah terlalu banyak berubah.”
“Maaf, sebelum kau lanjut bercerita, boleh aku minta rokokmu?”
“Kau merokok?”
“Mulai sekarang, iya.”

Talia tak benar-benar paham maksud Nata. Ia tetap memberikan sebatang rokok, juga koreknya. Nata membakar rokok itu, jelas ia tak menyangka benda tersebut menghasilkan rasa yang tak menyenangkan. Wajah Nata seperti mengatakan “bagaimana mungkin semua orang menghabiskan uang untuk benda seperti ini?” Meski demikan, Nata melanjutkan rokoknya, Talia juga melanjutkan ceritanya.

“Ia ingin seorang yang lebih, monoton. Aku tak bisa menjawab apa-apa. Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku bisa berubah. Namun, bukankah sebelumnya ia mengatakan bahwa ia ingin meninggalkanku karena aku terlalu banyak berubah? Jadi, perubahan bukanlah jawabannya. Entah apa.”

“Seseorang justru meninggalkanku karena aku terlalu monoton dan membosankan. Persis seperti kafemu ini.”

Nata mengucapkannya sambil kemudian menghisap rokoknya. Jarinya masih terlihat kaku ketika menggerakkan rokok itu ke bibir. Kemudian ia melanjutkan ucapannya.

“Aku ingin mengatakan bahwa aku bisa berubah. Itulah yang ingin ia dengar. Tapi aku tak bisa melakukan perubahan tanpa merencanakannya terlebih dulu.”

Setelahnya, mereka tak mengucapkan apa-apa. Talia memutuskan untuk berhenti merokok; sementara Nata melatih kemampuan merokoknya dan menghabiskan sebungkus rokok Talia. Malam itu tanpa perlu diucapkan, mereka memutuskan untuk kembali ke tempat masing-masing.

Setelah malam itu, Nata tak pernah lagi mengunjungi Talia. Ia punya firasat aneh, bahwa Talia tak lagi membuka kafenya.

 

Ario Sasongko

10-11 Agustus 2015

]]>
<![CDATA[Tanah]]>Wed, 31 Jul 2013 10:11:47 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/cerita-pendek/tanahDua hari sudah Bapak mengigau di atas kasur. Tak ia peduli pada perkara lain-lainnya, tak juga makan, minum, buang air, sendawa dan segala macam itu. Ia hanya berbaringan saja, tak sudi buka mata dan panas badan yang lebih banyak naik ketimbang turun. Anak-anak kesemuanya sudah berkumpul, itu terjadi amat segera setelah Dul mengirimkan pesan kawat yang isinya berpotongan singkat betul: “Bapak. Kalian. Sakit. Tak Sudi. Dibawa. Ke. Dukun Sehat. Cepat. Urus. Sini.” Dul ini sebenarnya sekedar tetangga yang ketimpa urusan untuk menjaga Bapak. Ia mendapat uang tiap bulan sebagai ganti kerugian atas segala kesusahan itu. Orang seperti Dul ini memang sudah perlu, terutama setelah Emak meninggal dan anak-anak bapak tak ada yang seorangpun sudi untuk balik lagi ke kandang sini, kampung bekas wilayah pabrik gula yang bangkrut akibat pekerjanya yang membelot.

Seperti halnya pesan yang dikirim dengan singkat-singkat demikian itu, anak-anak Bapak juga semuanya datang dalam waktu yang singkat. Datangnya mereka ini kebetulan juga disesuaikan dengan urutan lahir, pertama yang sulung datang, lalu disusul adiknya yang perempuan, lalu adiknya yang laki-laki, lalu adiknya yang perempuan dan si bontot datang paling belakang, laki-laki. Lakon kedatangan merekapun semuanya sama: Dalam suasana tenang, tiba-tiba pintu depan terjengkang dan gaduh, dari balik pintu itu si anak muncul.
“Mana Bapak?”
“Di kamar.”
“Sudah mati belum?”

Dul hanya menggeleng. Yang kemudian si anak itu lari ke kamar untuk mencari tahu Bapaknya. Adegan yang seperti itu, sama persis pula, kembali diulang sampai pada bagian si bontot yang sudah kehabisan efek dramatisnya.

Badan Bapak tak juga membaik, meski sudah berharian itu ia dikasih istirahat dan dibaringkan begitu saja di tempat tidur. Mereka sudah mencoba mengajak Bapak ke rumah sakit, namun dalam erangan dan igauannya, jelas-jelas terlihat Bapak menentangnya. Begitu juga saat mereka memberi siasat baru; Panggil dokter ke rumah. Bapak langsung mengerang, mengigau seperti disiksa setiap kali dokter manapun juga memunculkan barang sehelai rambut saja di ambang pintu. Sudahlah mereka ini terlanjur putus asa. Mereka pikir-pikir, mungkin Bapak ini memang sudah punya kehendak ingin mati ketimbang sembuh, dan dalam adat, urusan mati juga artinya urusan harta peninggalan. Mereka ini, meski sadar masih terlalu subuh untuk bahas harta Bapak mereka yang belum resmi mati, memutuskan lebih baik cepat saja membahaskannya.

“Kalau begitu, kenapa tak kita bikin urus soal warisan? Apa Bapak pernah bikin wasiat?”
“Entah. Dul? Pernah kau lihat Bapak bikin wasiat?”
Dul ini, yang walau pekerjaannya adalah tukang urus Bapak, tak pernah sekalipun ia lihat atau diberitahukan perkara wasiat semacam ini.
“Yakin kau Dul?”
“Yakin betul, Den.”
“Apa ini berarti Bapak memang tak pernah bikin wasiat?”
“Ah, kalau benar begitu, serakah betul Bapak kita. Masa sampai mati saja itu harta inginnya dimakan sendiri.”
“Atau, barangkali ia sudah pernah tulis, tapi memang belum ia beri tunjuk pada siapa-siapa.”
Mereka hening.
“Tapi, kalaupun ada surat wasiat, memangnya Bapak kita punya harta untuk dibagi?

Untuk pembahasan ini, apa yang dikemukakan si bontot memang ada benarnya juga. Bapak cuma tinggal di rumah kayu yang luas tanahnya tak ada apa-apanya. Anak-anak bapak memang semuanya sudah hidup enak di kota. Mereka juga pintar mencari lawan kawin hingga mertua mereka semuanya adalah pembesar-pembesar kota. Nah, lantaran mertua mereka yang banyak harta inilah, akhirnya mereka semua malu untuk mengajak Bapak ke kota. Bahkan kawinpun mereka tak mengundang Bapak. Adegan dialognya sengaja mereka buat singkat.

“Kalau begitu kapan saya bisa bicara dengan bapakmu?”
“Bapak saya mati.”

Demikian diucapkan sambil membuang muka. Aksi buang muka ini memang disengaja sehingga lawan bicaranya jadi enggan untuk melanjutkan pembahasan apapun. Begitulah kemudian awal sejarahnya sampai Dul ditimpakan ganti rugi untuk mengurus bapak.

“Tanah, Den.”
Ucapan Dul memecahkan situasi.
“Tanah? Bapak punya tanah?”
“Berapa hektar, Dul.”
“Tak tahu.”
“Kira-kira saja.”
“Yah barangkali empat hektar.”

Kelima bersaudara ini saling tukar pandang. Barulah mereka ingat perkara tanah empat hektar ini. Kejadiannya waktu si bontot masih kecil. Setelah diusirnya pemilik modal dari Belanda, warga desa saling berebut mematok tanah. Waktu itu Bapak masih sehat dan punya banyak pesuruh. Ia patoknya tanah tanpa tuan itu sampai empat hektar banyaknya.

“Kalau begini, kita wajib cari surat wasiat Bapak.”

Besok pagi sekali, kelimanya sudah kerja bakti di dalam rumah. Mereka bongkar dengan cermat segala isi di rumah yang tidak makan keringat untuk dihitung jengkal luasnya itu. Sekali mereka cari, tak ada hasil. Dua kali, masih juga demikian. Sampai berkali-kalipun, mereka tak temui barang selembar surat yang ada urusannya dengan harta benda. Ada mereka ketemukan surat, tapi malah surat cinta, dengan perempuan lain pula! Rupa-rupanya Bapak pernah main gila dengan perempuan bernama Sri. Dalam surat itu jelas sekali Sri menulis bagaimana ia merindukan pelukan hangat Bapak. Memang karena surat ini tak bertanggal, tak jelas kenyataannya, apakah mereka bersurat setelah atau sebelum Emak meninggal. Toh, kabar yang tak sengaja terbongkar ini malah mereka abaikan. Ada urusan yang rasanya mereka anggap lebih penting.

“Sudahlah, Bapak juga sebentar lagi mati. Kalau dia pernah main gila, biar jadi urusannya dengan Tuhan.”
“Lalu urusan kita apa?”
“Tanah!”

Upaya pencarian ini tak makan hasil. Mereka lalu membikin rencana kedua: Tanya langsung. Setiap jam mereka saling berganti tugas untuk masuk ke kamar bapak dan bertanya baik-baik tentang perkara wasiat. Tapi siapapun yang tanya, hasilnya tetap saja sama.

“Pak.”
“Emmmhhh.”
“Bapak punya tanah empat hektar. Betul?”
“Emmmhhh.”
“Sudah bapak pikir tanah itu mau dikasih siapa?”
“Emmmhhh.”
“Apa bapak pernah tulis wasiat?”
“Emmmhhh.”
“Kalau belum, apakah tak baiknya tanah itu buat saya semua saja?”
“Emmmhhh.”

Hasilnya, kini mereka semua jadi ribut urusan jawaban bapak yang bagi mereka masing-masing artinya Bapak sudah beri izin untuk memberikan seluruh empat hektar itu pada siapa yang menanya. Rumah kayu yang sudah uzur itu jadi ricuh, hampir roboh dalam artian yang sebenarnya. Beruntung tempo itu Bapak urung dibawakan ke rumah sakit, karena jika demikian, sudahlah diusir mereka akibat bergaduh, apalagi ini urusannya perkara warisan. Perdebatan ini tak punya jalan keluar. Semuanya yakin bahwa jawaban “Emmmhhh” itu berarti “ya” bagi setiap diri mereka masing-masing.

Urusan ini memang tak ada berhenti sampai tengah malam dan tentu ada bagi diri mereka masing-masing perasaan lelah.
“Sudahlah, jika begini runyam, ada baiknya kita akur saja.”
“Caranya bagaimana?”
“Tanah itu kita bagi.”
“Mana bisa. Tanahnya empat hektar, kita ada lima.”
“Atau kita bikin mati saja satu. Biar urusannya jadi genap.”
“Siapa yang sudi mati?”
“Kalau tak ada, ya kita undi. Tapi syaratnya satu, harus siap terima sial.”
“Hus-hus! Kalian ini sudah melantur.”
“Tanahnya masih bisa dibagi lima.”
“Seorang dapat berapa?”
“nol koma delapan hektar.”

Usulan yang terakhir ini memang terdengar baik ketimbang menuruti usulan mati dengan pertimbangan satu dibanding lima itu. Malam itu akhirnya mereka tidur nyenyak. Ada rasanya damai di hati masing-masing lima saudara itu. Persaudaraan tetap harmonis, masing-masing dapat tanah dan tinggal mendoakan agar Bapak mereka bisa lekasan mati menyusul emak.

Paginya, kelima bersaudara itu melongo. Mereka temukan Bapak sudah berdiri di ruang tengah sambil bertolak pinggang persis bintang di film. Tak ada sedikit juga sisa sakit-sakitan yang kemarin itu dipertontonkan Bapak dengan sungguh-sungguh.

“Loh! Bapak! Bapak sembuh?!"

Bapak terkekeh.

“Jadi, kemarin itu Bapak kenapa?”
“Tak tahulah, barangkali masuk angin.”
Semuanya diam melihat langkah Bapak yang sudah lincah mondar-mandir di dalam rumahnya.
“Oh ya, soal pertanyaan kemarin.”
“Yang mana, Pak?”
“Soal tanah.”
“Nah! Bagaimana itu Pak?”
“Kalian sudah Bapak kasih jatah tiap-tiap orang. Sisanya sudah Bapak wakaf buat jadi lahan kuburan.”
“Kuburan?!”
“Persis.”
“Lalu bagian kami dapat berapa?”
“Masing-masing dapat dua kali setengah meter!””

Ia biarkan anak-anaknya makin melongo. Paling tidak, besok-besok mereka tak perlu lagi pusing soal kuburan. Bapakpun dengan lincah pergi keluar rumah. Rupanya pula ia sudah menyiapkan koper yang turut dibawanya pergi. Tak ada yang tahu kemana perginya ini. Barangkali, ini hanya kemungkinan saja, ia pergi menjemput Sri, idaman hatinya.

Tamat


Ario Sasongko

31 Oktober 2012



BOM CERPEN

__________________________________________________

Untuk mengetahui info terbaru kegiatan Bom Cerpen,

follow Twitter @BOM_Cerpen atau

FB: Page BOM Cerpen

]]>
<![CDATA[Abah]]>Wed, 31 Jul 2013 10:07:50 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/cerita-pendek/july-31st-2013Orang-orang boleh panggil ia Abah. Tak ada yang tahu umurnya, mungkin sudah lebih 100 tahun, karena menurut pengakuannya (dan semoga benar), ia sudah hidup sejak zaman Belanda menjajah, Jepang menjajah, Proklamasi, Agresi Militer 1 dan 2, Konferensi Meja Bundar, Soeharto dilantik, dan seterusnya, dan seterusnya. Tak ada yang berani tak percaya pada apa yang dijadikan pengakuannya itu. Barangkali sebagian besar memang enggan kualat, maklum Abah ini sudah tua dan gemar bersumpah. Sebagian besar lainnya tentu adalah orang-orang yang waras, yang paham betul usia Abah, yang dalam perhitungan matematika sudah patutlah Abah hidup bergelimang peristiwa sejarah semacamnya. Tak bisa dipungkiri pula bahwa apa yang sering diujarkan Abah ini lebih banyak benarnya dan harus diakui pula ia berfaedah daripadanya. Sebagai orang yang uzur sedemikian itu, Abah sudah tak punya lagi pekerjaan selain jalan saja keliling kampung. Pekerjaannya inilah yang membikin Abah lantas mudah terkenal, terlebih atas segala macam perlakuan yang ia tunjukkan pada seisi di dalam kampung itu.

Abah paling gemar memberi komentar kepada yang muda-muda. Ini terutama, karena menurutnya bangsa ini boleh mendapat kemerdekaan akibat perlakuan orang-orang muda di masa lalu. Dalam pekerjaannya berkeliling kampung ini, Abah sering merapat sampai beberapa kali dan dalam merapatnya ini ia mulai banyak-banyak mengutarakan kisah.
“Pemuda yang tempo itu ikut serta berperang ya seusia kalian-kalian ini. Malahan ada yang masih 13 tahun, 14 tahun.”
Suatu kali itu, Abah bercerita di tengah-tengah pemuda yang sedang rehat dari bermain bola sepak.
“Belum lagi waktu baru-baru proklamasi. Pemuda-pemuda ramai bikin brosur, bikin tulisan di tembok-tembok, gerbong kereta. Disuruhnya rakyat kumpul di lapangan IKADA. Baru sekali hari itu saja Abah bisa lihat rakyat tak punya lagi takut menghadap senapan-senapan Dai Nipon.”
“Dai apa, Bah?”
Dai Nipon! Pasukan Jepang. Kalau bukan karena Bung Karno yang turun tangan langsung, sudah tumpah itu darah kami semua ditembus senapan Jepang. Kalian ini apa tak pernah dengar cerita yang begini di sekolah?”

Tak ada yang menjawab.
“Ah. Payah benar memang pelajaran sekolah sekarang.”
“Waktu itu Abah ada di sana?”
“Loh iya! Tempo itu mana ada anak muda yang cuma bisa bikin main-main. Semua orang berjuang karena kita semua kepingin bangsa ini merdeka. Mana pernah seperti kalian.”
“Seperti kami bagaimana?”
“Ya, yang kerjanya cuma main-main.”

Bagian akhir inilah yang sekaligus menjadi watak Abah. Setiap ceritanya selalu diberi ujung yang penuh sentimen. Selalu ia menyidir semua yang jadi teman bicaranya, tak pandang umur, kerja dan embel-embel lainnya.Watak yang untuk perihal ini juga membikin warga merasa agak-agak segan meladeni perbincangannya.

“Asep. Sep. Bangun!”
Belum juga matahari terbit, sudah dihardiknya Asep, cucu Abah yang ketiban sial harus tinggal serumah dengan kakeknya itu.
“Ada apa, Bah?”
“Tak bagus kamu ini masih muda hanya bisa tidur.”
“Ini subuh saja belum, Bah.”
“Memang belum. Kau tahu, dulu di jam begini ini, kami sudah menyerang Jogja yang sudah diambil sekutu. Serangan fajar! Sudah dengar?”
“Dulu sudah diajarkan di sekolah, tapi itu juga diajarnya tidak sepagi ini.”
Jika sudah yang seperti ini, Asep lebih pilih cari alasan ke luar rumah. Kali ini ia membawa sarung.
“Itu mau kemana kau, Sep?”
“Langgar!”

Tak banyak memang yang betah dengan urusan belajar sejarah dari Abah, terutama saat dia sedang kambuh dan terutama pula karena di bagian paling akhirnya ia selalu lebih banyak ceramah dan lupa diri.

“Eh, eh, itu Abah?”
“Oh iya.”
“Aduh celaka.”
“Sudah ah, bubar saja.”
“Loh-loh, ini kenapa semua bubar? Tak jadi pesan makan?”
“Tak usahlah ketimbang kekenyangan dengar ocehan Abah.”

Setelah lohor, Abah punya kegemaran pergi ke warung nasi di belakang kampung. Di sana ada sawah garapan yang dekat-dekatnya dibangun warung nasi. Urusan warung nasi ini sebenarnya jadi bisnis yang punya banyak janji keuntungan. Hanya saja, setiap Abah datang, pekerja-pekerja sawah jadi urung datang. Mereka lebih sudi duduk-duduk di bawah pohon sambil beristirahat, ketimbang meladeni watak Abah. Atau kalau-kalau sudah terlanjur di sana, mereka akan pilih bubar sebelum melihat Abah datang,. Di warung nasi ini, juga Abah hanya paling sering pesan teh hangat. Sambil minum teh hangat inilah, yang gelasnya besar, Abah hobi sekali mengajak cerita tentang materi kesukaannya, sejarah yang punya ujung ceramah. Khusus pada para pekerja sawah, Abah paling merasa patut untuk berceramah soal Komunis, soal tragedi 65, soal pancasila dan ujung-ujungnya menuduh yang pekerja-pekerja sawah ini cuma tukang bikin onar selama masa PKI.

“Dari warung-warung nasi begini ini, otak-otak petani diracun komunis. Ketimbang kerja, mereka lebih pilih leha-leha sambil makan nasi hutang, digembori urusan berontak dan nanti-nanti berulah bakar-bakar sawah segala. Macam kalian inilah, harusnya kalian balik sana ke sawah, daripada cuma sanggup duduk-duduk santai di sini. Apa kalian ini komunis semua?”

Tempo hari, demikianlah Abah membikin pekerja sawah itu pucat dan langsung bubar. Mereka takut tuduhan Abah bisa dianggap sungguhan dan kabar-kabar angin membuat pekerja sawah ini ditangkapi tentara, seperti yang kemarin-kemarin terjadi pada tahun 60-an. Zaman sekarang tak ada satupun yang sudi dianggap komunis.

“Abah ini kok, sudah tua tapi masih ingat kisah-kisah waktu muda? Kapan pikunnya sih Bah?”

Saat sepi dan cuma kedapatan berdua dengan Abah, Ningsih si penjaga warung lebih suka memotong dan menyampaikan basa-basi. Ketimbang sebagai pertanyaan, sebetulnya ucapan itu dihaturkan Ningsih sebagai bentuk doa agar Abah segera pikun. Wajar jika Ningsih berpendirian yang seperti itu. Setidaknya ia lebih senang lihat Abah menjadi pikun ketimbang warung nasinya tutup karena sepi pelanggan. Perkara ini memang mengandung banyak celaka bagi Ningsih. Bagaimana tidak, warungnya hanya patut jualan di siang bolong karena itulah waktu ketika pekerja sawah sedang istirahat. Sore sedikit saja, pekerja-pekerja itu lebih pilih pulang dan makan di rumah, hingga jualan Ningsih pun ikut sepi. Bisa saja Ningsih tahan buka sampai malam. Namun di pinggir sawah yang gelap begini, siapa yang patut beli nasi malam-malam? Malahan bisa tentu hanya setan saja yang mampir minta makan.

Tak ada yang berani menegur Abah, atau mungkin membantah. Mereka semua takut kualat. Selain itupun, sebenarnya ceramah-ceramah Abah ini tak pernah bisa disalahkan. Ia tak pernah menghasut, membodohi atau membikin cuci otak. Dia hanya suka ceramah dan main hakim pandangan orang semau dia. Warga kampung sini sudah pasrah menerima Abah. Ningsih juga pasrah melihat nasib warung nasinya yang menjelang bangkrut. Kalaupun ada yang pantas berdoa, mereka-mereka ini hanya berdoa kesehatan Abah memburuk dan berbaring sajalah ia di sepanjang hidupnya sampai ajal.

Entah siapa yang mulai berdoa, atau memang ini terjadi sendirinya, suatu hari tak terlihatlah keberadaan Abah di seluruh kampung. Seharian itu mereka bisa berpenghidupan dalam damai. Anak-anak muda jadi bebas bermainan, pekerja-pekerja sawah santai sekali siang itu makan nasi, ngopi sambil beberapa yang cari peruntungan menggoda Ningsih. Ibu-ibu sudi berkumpul lagi di bawah pohon dekat kandang ayam sambil menggunjing apa yang membuat mereka sepakat untuk tidak setuju.

“Sep, Asep!”
Dipanggilnya Asep yang hari itu kedapatan berjalan lesu.
“Ya, kenapa?”
“Abah kemana? Seharian tak muncul.”
“Sakit.”

Tak nampak kebaikan di air muka Asep saat mengutarakannya. Kabar itupun menyebar secepat angin ke sepenjuru kampung.

Kampung itu jadi bergerak bebas, berjalan serasi dengan apa yang jadi kemauan Warganya. Sehari mereka senang, dua hari masih senang, 3 hari juga senang, tapi lama kelamaan mereka seperti rindu sesuatu. Kampung itu jadi semacam sepi. Penghidupan hanyalah datar saja tanpa ada kejadian-kejadian yang bikin kesal, senang atau sedih. Hari-hari menjadi rutin yang bisa diramal, bahwa tak ada yang baru untuk tiap harinya. Kaum laki-laki ya palingan hanya kerja seharian, sore pulang ke rumah. Kaum perempuan hanya masak di dapur, beli sayur, ada beberapa yang jaga warung dan sisanya kumpul-kumpul siang di bawah pohon dekat kandang ayam.

Mereka mulai rindu Abah dan segala ceramah serta pelajaran sejarahnya. Beberapa mulai datang untuk menjenguk, mengobrol atau mendoakan kesehatan Abah. Ada pula yang datang ke sana hanya untuk mendapat ceramah atau sekedar minta nasihat. Segala persoalan kini memang selalu dimintakan jalan keluar pada Abah. Selama masih sakit, orang-orang datang ke rumah Abah ibarat rakyat yang minta pentunjuk pada tetua desa. Meski kebiasaan inipun tak tahan lama. Sejak hari itu memang Abah tak pernah lagi kelihatan mengelilingi kampung. Hanya kisah mengenainya saja yang tersebar. Ia kini serupa angin yang selalu dikisahkan ibu kepada anak-anaknya, kepada sesama pekerja sawah, oleh Ningsih kepada seluruh pelanggannya, oleh Asep pada rumahnya yang kini sepi tak berpenghidupan.

Ario Sasongko
25 Oktober 2012
BOM CERPEN

__________________________________________________

Untuk mengetahui info terbaru kegiatan Bom Cerpen,

follow Twitter @BOM_Cerpen atau

FB: Page BOM Cerpen

]]>
<![CDATA[Suku Darah]]>Wed, 31 Jul 2013 10:05:46 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/cerita-pendek/suku-darahIni rumah sakit punya cara yang menyeleweng. Ia menabungkan darahnya dengan dibagi-bagi dan diurutkan seusai dengan sebuah ketentuan. Pemiliknya sudah berketetapan demikan semenjak rumah sakit  ini dibangun.

“Sodara mau menyumbang darah.”
“Ya, betul.”
“Sodara pernah menyumbang di sini sebelumnya?”
“Pernah.”
“Jadi benar sodara datang kesini bukan karena ancaman?”
“Betul.”
“Bukan karena paksaan dan murni atas kesadaran sanubari sodara sendiri?”
“Persis demikian.”
“Sodara tidak dalam pengaruh obat-obatan?”
“Tidak.”
“Tidak juga karena pengaruh putus asa dan hilang harapan atau hendak cari kemungkinan bunuh diri?”
“Sama sekali tidak. Hidup saya memang susah, memang saya menukar darah karena tak punya uang untuk makan. Tapi saya bukan orang putus harapan.”
“Kami hanya sedia mi instan.”
“Dengan telur?”
“Ya, bisa diatur.”
“Sepakat.”

“Baik, sekarang saya ingin menanyakan darah sodara.”
“Golongan darah saya A. Jika tidak yakin, bapak boleh periksa lagi dari sekarang.”
“Oh, bukan, bukan darah yang begitu. Urusan golongan darah memang nanti akan diperiksakan. Maksud saya, darah sodara yang lain.”
“Darah apa? Darah saya merah, saya bukan bangsawan, atau, darah biru.”
“Bukan. Bukan yang seperti itu juga. Lagipula, mana bisa sejarahnya bangsawan nyumbang darah buat makan. Maksud saya, darah keturuan sodara.”
“Saya keturunan orang baik-baik. Tak punya perkara sama polisi. Bukan darah bakat maling, bapak saya insinyur, tapi bangkrut.”

Pembicaraan jadi panjang dan petugas jaga sudah bosan buang nafas panjang-panjang.

“Begini. Sodara keturunan apa? Darah sodara itu suku apa?”
“Oh. Suku jawa, tapi itu dari bapak saya. Ibu saya kalimatan.”
“Ada sejarah nenek, kakek, buyut, atau nenek moyang yang berlain suku? Atau warga asing, begitu?”
“Tidak."
“Baik. Kalau begitu sodara darah pribumi campuran jawa dan kalimantan. Maaf sekali, darah sodara sudah tercampur suku lain dan tak bisa diterima di sini. Sekian”

Rumah sakit ini memang punya ketentuan yang menyeleweng. Ia membagi-bagi darah berdasarkan suku empunya darah berasal. Penyimpanannya juga di dalam laci yang dipisah berdasarkan suku. Di bagian-bagian depan pintu ditulis jelas-jelas: “Donor Jawa,” “Donor Ambon,” “Donor Sumatra,” “Donor Cina,” “Donor Bule,” dan seterusnya. Untuk urusan donor bule, memang pihak rumah sakit agak malas membuat perbedaan antar negara, sudah dianggap saja yang berambut pirang dan kulit pucat itu sebagai suku “bule.” Darah hasil sumbangan itu dibagi dalam kelompok penyimpanan yang sudah sesuai dengan suku pendonornya.

Rumah sakit ini sudah banyak diliput oleh majalah, radio, televisi, atau portal berita di intenet. Si Direktur, yang selalu minta ditekankan bahwa ia orang Jawa, tak pernah punya keberatan jika dianggap tindakannya ini rasis.

“Ya, saya paham kalau saya ini rasis. Tapi, lagi-lagi, saya rasis yang bukan karena kebencian.”
“Lalu, apa yang namanya pantas disebut dari sikap rumah sakit Bapak?”
Pembawa acara televisi, dengan berlagak paling benar, meski kenyataannya tak selalu begitu, terus saja mengorek-ngorek Si Direktur.
“Loh, begini dik. Ehem.”
Ia membetulkan sedikit posisi duduknya, agak sulit karena perut yang menggembul ke depan itu.
“Saya hanya ingin menjaga kesakralan darah tiap suku di negeri ini. Kita harus bangga atas yang namanya keberagaman bangsa kita. Ratusan suku, bercampur dalam negara ini. Saya ingin mempertahankan identitas kesukuan pasien saya sendiri. Menjaga agar darah mereka tak dicampur-campur dengan kesukuan yang lain.”

“Tujuan Bapak?”
“Ya agar keberagaman kita ini bisa dijaga baik-baik. Agar kita tetap kaya dengan aneka macam budaya dan tiap orang bisa bangga menyebutkan suku mereka masing-masing.”
“Lalu, pasien bapak sendiri bagaimana? Juga dipisah-pisahkan?”
“Oh tidak, pasien tetap sama saja. Hanya darah saja yang dibedakan. Jadi kalau ada orang Jawa, seperti saya, butuh tambahan darah, ya nanti akan dikasih darah yang dari suku Jawa, seperti saya ini.”
“Lalu, kalau misalnya stok darah Jawa.”
“Seperti saya?”
“Ya, seperti Bapak, misalnya stok darah Jawa habis, lalu bagaimana?”
“Nah, itulah, kami mengupayakan agar tidak habis. Itu sebabnya dalam business plansaya, jaringan donor ini disebar ke seluruh daerah. Anda bisa menemukan kantor donor darah saya di semua kota. Kami punya darah semua suku. Jadi, kalau stoknya habis, akan dikirimkan saja dengan mudah sekali ke wilayah yang butuh.”

“Bapak sudah jamin itu?”
“Saya jamin setengah mati.”
“Banyak yang bilang, justru kebijakan Bapak membawa keretakan persatuan negara.”
“Ah mana bisa.”
“Soal Bapak yang dianggap kesukuan?”
“Saya tidak kesukuan. Orang Jawa seperti saya ini, terbuka pada semua suku. Lihatlah pulau Jawa ini yang sudah macam-macam suku tinggal di atasnya. Adik saja, misalnya. Adik suku apa?”
“Saya Jawa.”
“Ah, sama dengan saya. Kalau begitu kita sodara.”
Kemudian ditepuknya keras-keras bahu sang pembawa acara berikut tawa renyah yang melambangkan keramahan yang berlebihan.

Ia pulang dari wawancara dengan stasiun televisi dengan perut yang dibusungkan ke depan dan terasa gagah sekali baginya berlaku. Betapa bangganya ia mengenang peristiwa wawancara itu, yang disebar ke seluruh negeri, itupun ia tak lupa mengabari seluruh keluarga besarnya yang ningrat kejawaan. Kejadian itu memang kenangan terakhirnya sebelum segala pemandangan menjadi gelap ketika mobilnya terguling dalam perjalanan pulang.

Seisi rumah sakit terguncang. Mobil ambulans datang dengan suaranya yang menyelip-nyelip sampai ke pelosok ruangan. Direktur itu langsung dilarikan ke ruang operasi, meskipun ada pasien yang harus dikesampingkan ketika operasinya sedang berlangsung. Dokter kelas satu, langsung ditunjuk menangani operasi ini, berikut dengan segala perawat papan atas serta fasilitasnya. Operasi dilakukan dengan mencekam. Kita semua akan maklum jika tahu bahwa taruhannya adalah dipotongnya honor dokter seumur hidup kalau operasi ini gagal dituntaskan. Suasana sepi berikut dengan tembok-tembok yang berdiri dingin dan ritme detak jantung yang konstan, teratur namun penuh ancaman. Direktur yang seorang Jawa ini, kehilangan banyak darah.

“Mana darahnya?”
“Belum dapat!”
“Maksudmu?”
“Stok di sini sudah habis.”
“Mana bisa. Ini kita berdiri di tanah Jawa, mana bisa kita kehabisan stok darah Jawa.”
“Bukan itu perkaranya.”
“Lantas?”
“Darahnya AB-, sulit mencari darah AB-, harus Jawa pula.”
“Darah AB- yang lain, punya?”
“Punya. Ini ada yang baru masuk.”
“Suku apa?”

Seluruh dokter dan perawat papan atas itu saling beradu pandang dan bertanya melalui cara pandang mereka masing-masing.

Sore itu, menjelang senja yang bersahabat meliputi langit tanah Jawa, ia siuman dari tidurnya yang lumayan berkepanjangan. Dapat dirasakan kembali darah mengalir di dalam tubuhnya, hangat, lembut dan dirasanya, Jawa. Ia memandangi sesosok pemuda yang sejak tadi sudah berdiri setia di sebelah tempat tidur, dan seorang dokter yang nafasnya lega karena honornya batal dipotong seumur hidup.

“Ah, Pak Dokter.”
“Jangan dulu dibuat banyak bergerak, Pak. Rebahan saja dulu.”
“Ya, ya.”
Kini ia memandangi sosok pemuda asing di sebelah Dokter tadi.
“Ini siapa? Dokter juga?”
“Oh, bukan Pak. Saya donor Bapak.”
“Donor?”
“Ya, betul Pak. Tanpa darah beliau ini, mungkin Bapak sudah mampus. Darah Bapak sulit didapat.”
“Loh sebentar. Nama sampeyan memang siapa?”
“Khong Guan, Pak.”
“Loh, sampean Cina?”

Senyum tulus tersimpul di bibir Khong Guan. Senyuman ini tak lain sebagai sebuah jawaban yang membuat Direktur kita, yang seorang Jawa ini kembali pingsan.

Tamat
Ario Sasongko
19 Desember 2012
BOM CERPEN

Untuk mengetahui info terbaru kegiatan Bom Cerpen,

follow Twitter @BOM_Cerpen atau

FB: Page BOM Cerpen


]]>
<![CDATA[Ganti Nama, Oei!]]>Wed, 31 Jul 2013 09:58:00 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/cerita-pendek/ganti-nama-oeiOrang-orang sini sudah keburu ganti nama semua. Heran benar aku, sebenarnya begitu, lebih-lebih himbauannya saja baru keluar dari mulut Menteri Sosial, Moeljadi, sejak kemarin minggu. Sebenarnya pun bukan benar-benar keluar dari mulutnya, ia menulis himbauan itu di koran, atau menyuruh bawahannya buat menulisnya dan minta dikirim ke koran. Ia minta kami-kami yang masih nama Tionghoa ini bisa lekasan membaur dan lebih baiknya membaur itu jika kami-kami yang Tionghoa ini buru-buru ganti nama. Apa sih sebenarnya kegunaan ganti nama itu, biar ganti jadi nama Arab sekalipun, aku ini masih saja sipit, kulit kuning, rambut lemas. Karena tak sempat kutemukan kegunaan inilah, aku putuskan saja untuk urung mengganti-ganti namaku yang sudah tiga huruf pendek ini saja. Dipanggilnya pun kelewat mudah.

“Oei!”

Beginilah maksudku. Aku bisa dipanggil dengan singkat dan tak merepotkan itu.


“Aih, Tan! Janggal betul pagi begini kau sudah lewat.”

Kami ini begini mudahnya jika saling menyapa, kebanyakan nama kami ini cuma tiga huruf. Paling banyak empat sampai lima, tapi itupun masih mudah sekali diucapnya, semisal Han, Tjoan, Tjan, Liem, Kwee, yah macam-macamlah.

“Eh, nanti-nanti kau jangan sebut lagi aku ini Tan.”

“Loh? Ada apa memangnya? Kau ganti nama pula?”

Tan ini langsung berseri kebanggaan.

“Tanojo.”

“Hah? Apa itu?”

“Ya, namaku Tanojo sekarang. Kau sendiri? Sudah dapat nama?”

“Belum.”

“Oh, lekasanlah kau pilih nama, Oei. Kau tahu Pak Ong? Dia orang sekarang ini namanya sudah Onggo. Ah tapi aku lupa Onggo apa namanya itu.”

Inilah yang tadi itu kulamunkan. Tetangga-tetanggaku ini sudah hampir semuanya ganti nama. Aku malas untuk lekas ganti nama itu, kupikir tak ada salahnya dengan nama Oei. Apakah ada urusannya aku punya nama dengan keperluan-keperluan membaur seperti yang diarahkan oleh Pak Moeljadi?

Sekolah pagi ini pula rasanya canggung. Murid-murid tak bisa berlaku ketika guru mengabsen mereka dengan nama lama. Tentu saja yang berurusan dengan “canggung-canggung” ini hanya kami yang anak-anak Tionghoa. Seluruh murid Tionghoa di kelasku sudah seluruhnya ganti nama. Ada Candra, Salim, Hanjaya, macam-macam. Ah, memikirkan yang begini membuatku sadar kalau aku harus runyam menghapal nama mereka ini satu-satu. Seperti kami ini semua baru saling kenal, saat istirahat kami saling mengenalkan nama kami ini masing-masing. Hanya aku yang masih punya nama lama dan tak ikut bersibuk menyebutkan namaku. Belum lagi pengurus sekolah harus mendata nama-nama mereka semua yang sudah ganti nama, mengoreksi daftar absen, buku rapor, identitas ujian, dan segala kerepotan-kerepotan yang rasanya tak prinsip.

“Dalam hemat saya, himbauan Pak Moeljadi itu memang ada perlunya. Kini kalianpun jika disebut, akan terasa sekali bagian dari kami.”

Bu Nur menyampaikan pikirannya itu baik-baik di depan kelas, persis di tengah-tengah perihal pembelajaran ilmu bumi.

“Ah, Oei. Bagaimana dengan kamu? Apa nama barumu?”

“Tak ada.”

“Oh, kamu masih belum sempat ganti nama?”

“Bukan. Saya memang tak mau ganti nama.”

“Loh. Kamu ini kan biar Tionghoa, sudah peranakan. Sudah statusnya pun jelas.”

“Betul. Saya juga senang sekali jadi orang sini. Malah, saya tak paham Tiongkok, saya ini Indonesia, lahir di sini, tinggal di sini, bicarapun bisanya ya Indonesia.”

“Iya, barang tentu kamu ini lebih paham Indonesia karena inilah tempatmu tinggal. Tapi, tidaklah buruk untuk ganti namamu itu jadi Indonesia pula. Lebih banyak baiknya, malahan begitu.”

“Tapi, apa memang iya baik?”

“Oei. Kamu inikan orang Indonesia sekarang. Ya, nama Tionghoamu itu juga boleh tanggal bukan?”

“Untuk kepentingan apa?”

Ibu Nur menempelkan senyum yang sungguh bijaksana di wajahnya itu.

“Agar kau ini sudah tak ada lagi yang jadi pembeda dengan teman-temanmu yang asli Bumiputera.”

“Memang itu ada urusannya dengan nama? Dulu-dulu saya akur dengan teman-teman saya. Sekarang pun tak lain juga begitu.”

“Oei, kamu ini orang Indonesia. Apa enak namamu Tionghoa begitu?”

“Ah, kalau begitu, Ibu pun tak ada bedanya. Ibu juga Indonesia. Lantas mengapa nama Ibu itu nama Arab? Saya tahu, Nur itu dari bahasa Arab.”

Ucapanku itu membuat sesisi kelas tertawa dan aku berakhir di ruang kepala sekolah. Aku tak tahu mengapa aku merunduk, tapi tiap kali di depan kepala sekolah, demikianlah aku selalu bersikap, merunduk saja takut-takut menatapi wajahnya. Beruntung Mama dan Baba tak lantas dipanggil ke sekolah. Aku tak mau urusan jadi begitu runyam. Terlebih kepala sekolah tampak mengerti ketika kuujarkan kalau Mama dan Babaku belum juga ganti nama sampai sekarang.

Aku tak melanjutkan pembahasan tentang ganti nama itu di ruang kelas. Seperti biasa saja, sepulang sekolah aku pergi bersama beberapa teman, tak semuanya peranakan Tionghoa, ada yang totok pribumi, peranakan arab, ada macam-macam lainnya. Seperti kebiasaan kami, sepulang sekolah ini mampirlah ke lapangan dekat sekolah. Duduk-duduk kami di situ sambil meneduh di bawah pohon. Pohon ini, yang begitu kerindangan dan menurut angin sudah ada sejak zaman Belanda, selalu menjadi tempat kesukaan kami. Ada yang pernah sampai kepadaku, bahwa bibit pohon ini dibawa khusus dari Belanda, ditanam di sini dan tumbuhlah subur seperti biasa-biasanya pohon Jawa. Belanda-belanda lain sudah diusir pulang, kecuali bibit mati seperti pohon inilah yang tak bisa menyakiti pula sebenarnya, didiamkan saja tumbuh subur di atas tanah yang merdeka.

Usiaku sudah 14 tahun, sejak lahir pun aku biasa-biasa saja tinggal di sini. Aku tak pernah tahu apa itu rasanya hidup diatur Belanda. Mama dan Baba pernah, tapi mereka juga jarang punya cerita untuk urusan yang semacam itu. Baba hanya mengerti urusan dagang begitu juga dengan Mama yang serasi betul dengan urusan Baba. Sementara aku ini hanya paham lahir, dibilangnya aku keturuan Tionghoa, tanahku Tiongkok tapi aku adalah orang Indonesia. Tak paham aku apa itu Tionghoa kecuali mata kami yang sipit, kulit kami yang putih kuning, rambut kami yang lurus. Tanah yang kulihat, udara yang kuhirupkan ini, bahasa yang kupaham, segalanya bentuk Indonesia. Lalu, apakah demikian itu masih kurang akur, karena namaku masih berbentuk Tionghoa? Ah, biar bagaimana ingin kuacuhkan, urusan ganti nama itu masih saja usil mendesak-desak minta diingat.

Sore aku pulang dan kutemukan Baba sedang berpusing-pusing. Mamapun tampak demikian dan jadi lebih banyak bergerutu melihat kedatanganku yang agak sore. Biasanya mereka membiarkanku, tapi mungkin karena ada urusan kesusahan itu, segala jadi tampak salah jika ia memandangnya. Aku abaikan segala perkara itu, pergi sendiri mandi ganti baju dan segala macam kebiasaan yang biasa kulakukan pada diriku sendiri. Sampai malam, suasana jadi menjurus tenang, agak terlalu sepi sebenarnya, tapi tenang. Kami semua kumpul makan malam di meja. Biasanya dalam urusan ini, Baba suka sekali berseling menanya bagaimana pelajaranku, apa saja yang sudah kudapat dan apakah aku sudah makin pandai matematika. Mungkin ia ingin melihat bakat berhitung dan dagang yang harusnya turun dari darahnya kepada darahku. Tapi malam ini kami semuanya hanya terpaksa diam. Entah mengapa Mama dan Baba diam. Aku sendiri diam karena mereka lebih bersenang untuk diam khusus di malam ini. Sebenarnya aku lebih senang begini, karena lantas Mama membuka pembicaraan dengan tema yang agak ingin kuhindari.

“Oei, bagaimana sekolahmu hari ini?”

“Tadi aku bertengkar dengan Bu Nur.”

“Urusan apa?”

“Ganti nama.”

Mama dan Baba berganti pandangan satu sama lain. Baba yang kali ini berminat menanyaiku.

“Apa yang lalu kau sebutkan padanya?”

“Kubilang aku tak mau. Aku tak paham, mengapa kita yang namanya Tionghoa ini harus sibuk-sibuk ganti nama?”

“Apa kau sungguhan sungkan untuk ganti nama, Oei?”

“Ya, aku suka dengan namaku yang begini. Untuk apa diubah? Toh, tanpa ganti namapun, aku sudah bangga jadi orang Indonesia.”

Mama dan Baba kembali berpandangan. Baba kembali lanjut berbicara.

“Oei, jikapun kau tak ganti nama, tak apa-apa.”

“Benar Baba mendukungku?”

“Oei. Usaha Baba sudah tak lancar di sini. Keadaan sedang sulit, tak tahulah sampai kapan.”

“Lalu?”

“Lalu, kami pikir, agak sulit jika kita mau terus ada di sini. Oei, sebentar lagi kita pulang ke negeri Cina.”

Aku diam. Entah mengapa aku melakukan ini, tapi kemudian aku meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam kamarku. Aku diam saja duduk di atas kasur. Dari luar, Baba terus mengetuk pintu, minta dibukakan. Ia terus saja katakan, bahwa aku tak perlu risau urusan ganti nama itu, karena nanti di Cina, semua orang bernama Cina sepertiku. Aku tak risau soal itu. Aku risau, karena ini artinya aku akan meninggalkan negeri yang kupikir menjadi tanah airku, kebangsaanku. Baba terus saja mengetuk pintu, terus saja membujukku, dan akhirnya aku hanya keluar dengan satu permintaan.

“Ba, aku pingin ganti nama.”

Ario Sasongko

1 Oktober 2012

BOM CERPEN

__________________________________________________

Untuk mengetahui info terbaru kegiatan Bom Cerpen,

follow Twitter @BOM_Cerpen atau

FB: Grup BOM Cerpen & Page BOM Cerpen

]]>
<![CDATA[JIAU-OA NEGERI DI SELATAN]]>Wed, 31 Jul 2013 09:56:36 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/cerita-pendek/jiau-oa-negeri-di-selatanCatatan yang saya dapat dari dinasti Tang, rupanya tak tepat. Tanah ini bukan Ka-Ling, saya bisa pastikan itu bahwa mereka ini memang hindu, tapi bukan berasal dari Kalinga, bukan juga disebut orang Kling. Mereka ini jenis berbeda. Saya coba untuk menjajakinya dan yang paling tepat, mereka ini disebut orang Jiau-oa. Saya sudah coba ikuti penggambaran yang masuk dalam catatan-catatan Dinasti Liu Song, Liang, dan Tang. Tak salah lagi memang ada negeri ini di selatan. Di samudra selatan. Biar begitu, jalur yang saya halu agak berbeda dengan catatan yang sudah-sudah. Saya menempuhnya dari timur ibukota. Perjalanan menuju timur ibukota ini sekiranya makan waktu satu bulan penuh jika kau berjalan seharian dan istirahat hanya malam, kecuali untuk makan. Dari lautan di timur ibukota inilah pelayaran dimulai. Butuh sekitar satu satu setengah bulan untuk mencapai Pulu Kondor. Dari sana perlu perjalanan 15 hari untuk sampai di Da-zi. Setelahnya perlu 15 hari lagi menuju tenggara untuk sampai di jiau-oa ini. Umumnya negara-negara di selatan ini terletak di bagian barat daya Jiaozhi. Negara terdekat jaraknya terkira 3 sampai 5 ribu li, dan terjauh antar sekitar 20 sampai 30 ribu li. Sementara Jiau-oa ini bisa sampai 24 ribu li.
Pelabuhan di sini sibuk, orang dari macam-macam negeri banyak yang mendarat di sini, terlebih karena alamnya pantas untuk bercocok tanam. Pakaian mereka hanya terdiri dari sarung katun, dan tertutup bagian bawah sementara mereka biarkan dada mereka kesemuanya terbuka. Rambut mereka digerai bebas. Hanya wanita-wanita saja yang saya lihat mengenakan kain sulam yang terikat pada pinggang. Mereka banyak berjual dan menghasilkan. Beras, rami, kacang polong. Meski tak punya gandum di sini, hampir sama dengan yang berlaku di Siam. Saya dan juru bicara sampai dan akhirnya boleh menginap di kampung petani garam. Petani ini mendapat garam dari membuat petak-petak dan mendidihkan air laut hanya berkat sinar matahari. Selainnya, mereka pula menernak kambing, kerbau, sapi dan unggas. Nelayan ada cukup banyak dan biasa menghasil ikan dan kura-kura. Bisa dibilang negeri ini bergantung sepenuh hidup mereka atas ketersediaan alam, dan memang di sana-sini alam melimpah untuk mereka.

Rumah nelayan tempat saya tinggal ini bergenting warna-warna merah kuning. Mereka ramah terutama pada pedagang Tiongkok seperti rombongan saya. Mereka tak paham saya bukan pedagang, melainkan biksu, tak mengapa pula sebenarnya dengan hal itu. Hidangan yang mereka berikan pada saya begitu banyak pula bersih. Anehnya mereka memakan langsung pakai tangan. Saya harus mengikuti tata cara ini, agar dapat dikatakan menghormat pada kebiasaan. Meski saya tak melihat adanya calon hukuman bila saya tak menurut pada kebiasaan tata cara makan itu. Mereka tak punya air teh, dan menawari saya arak. Saya tak minum arak atau semacamnya yang membikin mabuk, tentu saja. Tapi saya sempat tanyai darimana arak itu dibikin, mereka jelaskan itu dari kelapa dan pohon palem. Aromanya wangi, karena dapat sampai tercium ke hidung saya. Kelihatannya pula arak ini bagus, karena orang-orang sudah kelihatan mabuk ketika beberapa tenggak saja mereka menikmatinya. Mereka mabuk sampai malam. Rombongan lainnya menginap di kapal, sementara saya boleh menginap di rumah nelayan sejak  saya janjikan uang satu qian emas. Mereka juga bilang, besok saya harus bangun pagi kalau tak rela ketinggalan pemandangan hukum negara.

***

Pagi sekali saya sudah menyiapkan diri, berbersih badan di kali dan makan pagi bersama yang lainnya. Pagi itu memang orang-orang memasang muka gembira. Mereka sudah berbondong searah menuju tempat yang kemudian kulihat sebagai lapangan yang luas. Mereka ini berjejer mengelilingi sebuah tanah yang kosong sama sekali dan hanya ada semacam balai persegi. Saya bertanya sebab mereka demikian, dan hanya dikatakan kalau pagi ini hendak ada hukuman mati. Matahari sudah naik banyak derajat, ketika suasana berkembang. Rombongan-rombongan datang, kurang lebih banyaknya sampai sekitar 500-700 orang. Ini semacam rombongan beradat dengan seragam dan bendera-bendera bulu, umbul-umbul serta genderang yang disesuaikan dengan tahap mereka melangkah. Orang-orang langsung keburu berlutut dan menunduk saat melihatnya. Saya melakukannya dan baru berbisik menanya keinginan mereka untuk berlaku seperti itu. “Raja datang” hanya itulah ucapan orang di sebelah saya. Rupanya di sinipun demikian, orang tak boleh ada yang lancang jika raja hendak berlewat. Semua harus berlutut dan merunduk yang demikian itu untuk menunjukan sikap berhormat. Saya sempat-sempat mengintip, dan rupanya sebagian banyak rombongan itu adalah seperti prajurit, yang saya pikir berguna melindungi raja yang kuperkirakan pula pasti menaiki gajah, sebab hanya ada satu gajah yang digunakan oleh rombongan itu.

Setelahnya, raja duduk di balai persegi yang jauh-jauh sudah disediakan. Ia memiliki rambut yang cukup panjang untuk semacam disanggul di atas kepala. Pakaiannya mewah dan jelas beda sekali dengan segala yang ada di sekitarnya. Jubah dan bajunya itu sutra kualitas bagus bergambar bunga, sepatunya kulit yang tebal dan di dadanya tergantung lonceng yang kemilau itu berarti terbuat dari emas. Eksekusi disiapkan dengan seorang yang sudah terikat dipaksa untuk berlutut. Ia diucapkan segala perbuatannya yang salah di hadapan orang-oeang yang menonton ini. Di dalamnya saya dengar orang ini sebagai pengkhianat yang suka mencuri, rampok serta mengambil uang pajak hasil bumi. Saya tanyakan lagi apakah sudah biasa ada sumber hukum mati yang begini? Dikatakan pada saya bahwa yang terbiasa adalah menebus pelanggaran dengan berbayar upeti. Hanya contoh-contoh yang dikhususkan saja yang boleh merasakan hukum mati. Biasanya perampok dan pencuri besar-besaran. Pagi di demikian hari ini, saya akhiri dengan hukuman mati yang pertama kali saya saksikan di depan diri saya sendiri.

Saya terutama suka menaruh perhatian pada raja negeri ini. Saya putuskan untuk pergi melihat. Saya menumpang pada seorang peternak yang mau membawa kambingnya ke kota. Kebetulan ia rela menerima saya tanpa perlu ditawari seberapapun. Kediaman raja dikelilingi tembok bata yang saya amati setinggi tak kurang dari 9 meter. Ia begitu luas hingga panjang tempok pembatas ini rasanya bisa sampai 90 meter. Gerbang masuknya ada dua lapis. Saya tak bisa menjelajah ke dalam karena tak punya izin urusan. Saya bertanya-tanya di kedai makan, dan mendapati penjelasan bahwa di dalam kediaman raja ada sekiranya beberapa rumah yang tinggi-tinggi. Lantainya dibuat dari papan yang lalu di alasi tikar rotan halus atau tikar rumput yang dianyam. Kemewahan itu tentu bisa terbanding, jika saya ingat rumah tempat saya bermalam hanya berlapis tanah dan jerami.

Upaya untuk mencari tahu kediaman raja ini, berakhir dengan kericuhan di meja lain. Saya tak paham betul sumber keributannya, namun mereka menyebut-nyebut persoalan kelancangan menyentuh kepala. Keduanya mabuk, kupahami itu dari langkah mereka yang tak sanggup teratur. Keduanya mengeluarkan benda yang sejak tadi mereka sisipkan di pinggang. Saya sudah lama menaruh curiga pada benda itu, karena seluruh pria membawanya di pinggang. Ia rupanya semacam senjata pipih berbentuk meliuk dan ukurannya sangat pendek. Gagangnya mungkin terbikin dari cula badak ataupun gading gajah. Tak ada yang hendak melerai mereka, sayapun terasa demikian tak berniat untuk bercampur pada kesulitan orang lain. Seorang daripadanya menusuk lawannya sampai tergeletak begitu saja. Orang-orang ramai, dan yang menusuk langsung lari menghilang tanpa sempat ditemui oleh semacam prajurit yang sepertinya berfungsi untuk mengatur keamanan. Saya sempat menguping perihal yang terjadi. Rupanya, urusan memegang kepala memanglah urusan penting. Mereka akan marah jika kepala mereka dipegangkan dengan sengaja. Satu-satunya cara untuk meleraikan kesulitan ini hanya dengan berkelahi sampai selesai. Orang yang tadi tertusuk, sudah mati seketika. Mungkin senjata ini dibubuhi semacam racun kuat. Pembunuhnya sudah melarikan diri dan menurut aturan kota, ia tak boleh ditemukan dalam 3 hari. Jika di tiga hari itu ia ditemukan, habislah ia terhukum mati dengan cara yang sama. Namun jika dalam 3 hari ia berhasil menghilangkan diri, maka kejahatannya luntur dan ia bisa bebas berkehidupan seperti biasanya saja. Baru sebentar saja saya di negeri selatan ini, sudah ada banyak yang mati. Ini biasa saja menurut mereka, karena segala urusan di sini biasa berkesudahan dengan perkelahian.

Awalnya saya memperkirakan segala di negeri ini sudahlah menakutkan. Rupanya kesemuanya terbantah saat saya temui pemandangan itu. Seorang pria yang menebarkan berbagai gambar di atas selembar kertas. Gambar-gambar itu ia terbarkan saja di tanah dan ditunjukkan pada penonton. Ia kemudian berjongkok dan mulai menceritakan gambaran itu. Kisahnya seperti jenaka, karena para penonton terbawa tawa dibuatnya. Saya membincangkannya pada peternak yang lagi-lagi mengantarkan, kali ini pulang ke tempat saya bermalam. Rupanya kisah yang disampaikan itu tak selalu jenaka, kadang juga sedih yang bisa membikin penontonnya menangis. Rupanya negeri ini sudah mengerti pula keindahan seni bercerita.

***

Malam ini kebetulan purnama di tanggal 15. Orang negeri ini punya kebiasaan untuk menyanyi ketika malam purnama sedang cerah. 20 sampai 30 wanita pribumi membentukkan kelompok, yang kemudian mulai berjalan beriringan sambil menyanyikan lagu rakyat. Mereka menamakan kegiatan ini sebagai “membuat musik di bawah sinar bulan purnama.” Malam inipun jadi terasa tentram kembali. Saya harus bersiap badan, karena esok akan hinggap di pelabuhan yang selanjutnya, di negeri Moa-cia-pa-i.

Ario Sasongko

18 September 2012

BOM CERPEN

Kisah ini dibuat berdasarkan beberapa penggambaran ttg nusantara dari catatan-catatan kuna negeri Tiongkok dinasti Song.

__________________________________________________

Untuk mengetahui info terbaru kegiatan Bom Cerpen,

follow Twitter @BOM_Cerpen atau

FB: Grup BOM Cerpen & Page BOM Cerpen

]]>
<![CDATA[Jendela]]>Wed, 31 Jul 2013 09:38:39 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/cerita-pendek/jendelaSemua pasti beres.”

Pergilah kau kemudian di malam bolong, menghilang bersama lolongan anjing yang begitu panjang sampai aku tak sadar kapan berakhirnya. Sejak itu, setiap malam aku selalu termenung di samping jendela, menanti sebuah jawaban. Dari balik jendela ini, mataku tak berhenti melekat pada pagar depan rumah kita, yang begitu rendah, hingga dengan mudah orang-orang menerobos masuk. Aku menantikan masa ketika kau buka pagar itu dari luar sana, dan kembalilah kau padaku. Aku hanya ingin kau kembali, meski sebagai nyawa yang lepas dari raga, dan menjawab segala hal yang telah mengubah hidupku serta hidup anak kita.

Dari mana aku harus memulai ini?  Jika saja aku mengatakan bahwa segalanya berubah sejak malam itu, mungkin anggapan ini tak pula terlalu tepat kukemukakan. Jauh-jauh hari memang kau sudah memperingatkannya, agar aku membawa anak kita yang bahkan masih jauh dari gadis, untuk mengungsi ke rumah kakakku di Jakarta. Aku tak pernah rela, aku tak sudi berjauh-jauh darimu, dengan alasan apapun. Namun, sepertinya takdir ini memang tak dapat ditolak dan kaulah yang lantas pergi jauh bersama nasib yang memang ingin seperti begini adanya. Sejak malam itu, kau tak pernah lagi pulang, kini anak kita sudah sarjana, tak sekalipun ia menanyakan bapaknya. Aku pernah menelponnya sekali. Ia bilang, ia ingin pergi ke laut. Mencari bangkaimu barangkali. Semoga ia tak menjadi palu dan arti pula, sama sepertimu.

                                                                                                             ****


Sore itu, aku ingat betul dengan suasana rumah tanggaku yang damai. Nirma, anakku yang masih berusia 5 tahun, sibuk menempeli ayahnya dengan rengekan ingin pergi ke laut. Darimana pula hasrat melaut itu muncul? Tentu suamiku ini bertanya-tanya. Kami tinggal di kota kecil yang tak akrab dengan laut. Butuh puluhan kilometer untuk mencapai laut terdekat, itupun hanya pesisir nelayan, jangan bayangkan pantai wisata dimana kau bisa pesan air kelapa muda sambil berjemur di atas tikar. Awalnya akupun terkejut mendengar rengekan Nirma sepulang sekolah. Ia ingin pergi ke laut tanpa mau memberikan alasan. Habis dayaku untuk mencari tahu, apalagi mengalihkan hasratnya ini. Karenanya lah, aku terpaksa melempar perkara pelik ini dengan kalimat menyelamatkan diri, “nanti saja, bilang ke bapakmu jika dia sudah pulang kerja.”

Jadilah Nirma menunggu bapaknya itu dari balik jendela. Matanya terus saja melekat ke arah pagar, menunggu sosok bapaknya yang biasa pulang kepayahan sambil membuka pagar itu. Percuma mengusirnya dari pinggir jendela itu, seperti menyingkirkan batu kali. Makanpun tak mau ia, mulutnya dikunci rapat-rapat. Di pikirannya hanya ada keinginan untuk pergi ke laut. Mau jadi nelayan barangkali jika anak ini sudah besar. Celaka sekali kalau benar demikian. Tak pernah sekalipun aku melihat nelayan perempuan.

“Nirma, kau harus makan dulu, nanti bisa sakit kau kalau tidak makan.”
“Biar!”
“Kalau kau sakit, mana bisa kau ke laut?”
“Aku pasti sembuh sebelumnya.”
“Bapakmu bisa marah kalau tahu kau tak mau makan. Nanti malah tak diizinkannya kita ke laut.”
“Kalau aku sehat, aku boleh ke laut?”
“Bisa jadi.”

Nirma membuka mulutnya tanpa bicara. Langsung kusuapkan sendok pertamaku siang ini ke mulutnya tersebut.  Cepat sekali ia mengunyah makanannya. Rupanya bulat betul tekadnya untuk pergi ke laut ini. Seandainya esok-esok aku bisa mengulur niatan ini, alangkah senangnya aku bisa menggemukkan anakku yang semata wayang ini.

Sore itu suamiku pulang, dan Nirma langsung memburunya dengan rengekan yang sama. Tak habislah daya pikiran suamiku melihat permintaan anaknya tersebut. Aku dapat melihat dari air wajah suamiku ini, penuh bertanya tentang keinginan anaknya yang seolah tiba-tiba datang dari langit. Kami tak pernah berbicara tentang laut, tak secuilpun kami pernah melakukannya. Barangkali Nirma sendiri belum sadar bahwa ada di hamparan muka bumi ini, permadari biru yang menutup hampir seluruh isinya dengan perairan yang disebut laut itu. Suamiku bertanya dengan halus sekali, darimana Nirma tahu tentang laut, namun tak sepatahpun ucapannya yang menjawab pertanyaan tersebut.

“Ibu bilang, kau boleh mengajakku ke laut kalau aku sehat. Ini, lihat sekarang aku sehat, makanku banyak!”
Suamiku langsung melemparkan tatapannya kepadaku.
“Aku tak bilang boleh.”
“Lantas, kau bilang apa?”
“Aku bilang, bisa jadi. Itu berbeda dengan boleh.”
Suamiku tak berhenti menggerus-gerus rambutnya.
“Nirma, nantilah kita bicara lagi, bapak mau mandi dulu. Kau makanlah yang banyak.”

Tak satupun dari kami yang menganggap ucapan tersebut sebagai sebuah janji. Namun tampaknya tak demikianlah bagi Nirma. Kali ini berjongkok ia di depan pintu kamar mandi, menunggui bapaknya yang sedang membasuh badan di dalam sana. Kubujuk ia dengan siaran radio, dan jajanan keliling yang biasa ia sukai. Nirma tak bergeming. Satulah nilai baik yang kudapatkan dari sikapnya ini, itupun kalau dapat sebagai nilai baik. Anak ini tak mau menyerah jika memiliki kemauan. Nirma terus saja seperti ini sampai malam. Berbagai dalih digunakan suamiku untuk mengulur waktu berpikir.

“Bapak mau pakai baju.”
Ditungguilah sampai suamiku tuntas memakai baju.
“Bapak mau sembahyang.”
Ditunggui pula sampai tuntas suamiku sembahyang.
“Bapak mau keluar sebentar.”

Kembalilah Nirma teronggok di balik jendela, melekatkan pandangannya ke arah pagar tanpa mau ia lepas lagi sampai suamiku itu pulang. Sampai akhirnya suamiku itu pulang, dan diajaklah kita semua makan bersama di meja.

“Pak, ayo kita pergi ke laut. Aku mau lihat.”
“Darimana kau tahu tentang laut, jawab dulu pertanyaan bapak.”
Nirma diam sebentar, mempertimbangkan keraguannya.
“Aku mau lihat ikan. Aku tahu, ikan hidup di laut.”
Kami berpandangan mendengar jawaban yang sungguh tak disangka itu.
“Kalau kamu mau lihat ikan, biar nanti ibu belikan di pasar.”
“Aku mau ke laut!”
Sepertinya kali ini memang kami harus mengalah pada tekadnya.
“Ya sudah, nanti kita pergi.”
“Kapan?”
“Bapak selesaikan dulu pekerjaan-pekerjaan Bapak. Di dekat-dekat sini tak ada laut, butuh berhari-hari untuk sampai ke sana. Nanti liburan kita pergi ramai-ramai. Tapi, kau harus janji dulu, sekolahmu harus rajin, baru bapak mau mengantarmu.”
Nirma mengangguk dan usailah sudah drama ini.

Malam kembali tenang, untuk sementara. Suamiku pergi melarutkan dirinya bersama buku-buku dan tulisan, seperti biasanya. Aku berbaring di samping Nirma menenangkan semangatnya yang sejak tadi bertanya seperti apakah laut. Aku tak pernah pergi ke laut, dari lahir hingga sekarang, di kota kecil inilah aku tinggal tanpa pernah hinggap jauh-jauh sampai ke pinggiran pulau. Kujawab pertanyaan itu dengan hal-hal yang selama ini kudengar saja. Laut itu luas, berwarna biru, ada banyak ikan di laut, aku tak tahu apakah ikan itu dapat kita lihat dari permukaan atau tidak.

Akhirnya Nirma terlelap, jika kau melihat wajahnya saat tidur, takkan kau menyangka anak ini memiliki pendirian yang begitu kuat, dan semangat yang begitu menggebu. Sama seperti ayahnya. Belakangan ini kulihat semangat itu pula yang sedang berkobar di dalam diri suamiku. Terlebih sejak ia bergabung dalam kelompok seniman yang menurutnya selalu berusaha menyuarakan nasib rakyat kecil. Buku-buku ideologi itu mulai bertumpuk di rumah kami, berlambang palu arit. Awalnya aku agak khawatir karena kelompok ini berhubungan erat dengan partai politik yang sering membuat masalah. Aku ingat perbincangan kami kemarin-kemarin.

“Konflik itu diperlukan untuk membawa perubahan. Tanpa ada konflik, perubahan takkan pernah terjadi.”
“Tapi tidakkah itu berakibat buruk?”
“Masih lebih buruk mana dengan nasib rakyat kecil seperti kita yang selalu sengsara? Kau tahu, di Jakarta kini sudah semakin merah. Itu artinya rakyat percaya bahwa partai ini ingin melakukan revolusi signifikan dalam memperjuangkan nasib mereka. Baru sekarang aku menemukan ideologi yang mengagungkan kesetaraan.”
“Ya, nyatanya, lihat peristiwa 30 Sepetember kemarin, apakah itu tak membawa bahaya pula bagi nyawa kita?”

Suamiku terdiam.

“Karenanya, kuminta kau dan Nirma kemarin itu mengungsi ke rumah kakakmu di Jakarta. Kau tak mau. Kupikir pula, pasti ada kesalahan tentang peristiwa itu. Karena tak demikianlah yang kutahu dari teman-teman sesama seniman. Ah, sudahlah, toh aku tak terlibat apa-apa, mana ada pengaruhnya peristiwa itu denganku.”

Aku ingat betul bagaimana malam itu kupandang suamiki, yang sudah tenggelam di mejanya, bersama kisah yang ia tuliskan. Nirma juga pulas sekali tertidur, mungkin ia sedang memimpikan laut. Rupanya pikiran suamiku salah. Malam itu, tiba-tiba saja segerombolan orang berseragam mendobrak rumah kami, entah mereka datang darimana. Mungkin pagar rumah kami tak cukup tinggi, hingga dengan mudah orang menerobos masuk. Dicarinya suamiku, dan dipaksa ia ikut mereka. Buku-bukunya juga ikut diambil dan langsung dibakar di tempat.

“Semua pasti beres.”

Itulah ucapan terakhirnya sebelum ia pergi meninggalkan kami. Sejak malam itu, ia tak pernah kembali. Setiap malam, aku selalu termenung di samping jendela, menanti sebuah jawaban. Nirma kukirim ke rumah kakakku di Jakarta, ia seorang ulama terkemuka di sana. Kuharap dengan demikian tak melekatlah stigma palu arit itu di dadanya. Kasihan ia tak pernah memiliki teman akibat peristiwa bapaknya itu. Kini ia telah dewasa, entah berapa lama aku tak bertemunya. Terakhir kali itu, ia mengirimi surat, tak banyak yang ia katakan, hanya satu kalimat saja.

“Aku ingin pergi ke laut.”

Tamat

Ario Sasongko
1-3 Juni 2012
BOM CERPEN

]]>
<![CDATA[SURAT PEMBAWA HUJAN]]>Wed, 31 Jul 2013 09:36:36 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/cerita-pendek/surat-pembawa-hujanRupawan terkasih,

Suratmu sudah sampai baik-baik. Tukang surat yang biasa juga sudah baik-baik menyampaikannya padaku. Baguslah jika di sana kau dapat tentram, akupun demikian. Meski, yah, bagaimana aku menyampaikan ini. Em, tentram di sini kurasa tak terlalu enak, terlalu sepi. Sepi memang nikmat untuk beberapa suasana, semua orang butuh bersepi sebentar. Tapi sepi di sini sudah keterlaluan pekatnya dan sesuatu yang sudah keterlaluan tentu manfaatnya jadi tak baik. Kau tahulah tentu apa penyebab sepi itu. Meski demikian itu, paling tidak sekali-sekali semaraklah sepi ini setiap surat yang kau tulis dalam hatimu sampai di tanganku.

Pagi ini memang aku sudah merasakan firasat, bahwa langit mendung. Apa aku sudah pernah bilang, bahwa hari selalu hujan ketika suratmu datang? Ah tentu saja sudah. Aneh memang, terlebih hujan itu turun persis ketika surat itu sampai di tanganku, persis ketika tukang surat menyodorkan surat dan aku menerimanya, persis di saat itulah, hujan mendadak turun lebat. Dan dengan begitu, setidaknya dua minggu sekali kota ini selalu hujan.
Pekerjaanku di sini biasa saja. Aku masih buka kursus memasak, tak terlalu banyak yang daftar, tapi masih lumayan rasanya. Malamnya aku mulai mencoba menulis, meski tak mungkin cepat selesai novelku ini. Menulis rasanya memang obat paling pas. Aku tak banyak teman bicara, setiap sore hanya bicara pada muridku, itupun tak lebih dari perkara memasak. Malam itulah paling terasa pahitnya sepi, dan lelah rasanya hanya berdiam sambil dengar piringan hitam. Dengan menulis itu aku punya dunia lagi, dunia yang ramai. Ada aku di dalam situ, dan kau tentu yang setiap hari di dunia itu berdiri berdamping denganku. Maaf aku tak pernah berizin, tapi tentu kau tak berkeberatan jikanya kumasukkan kisah kita dalam tulisanku. Walau tentu novel akan membosankan jika isinya hanya berdamai-damai. Kububuh sedikit-sedikit bumbu di dalamnya, kuberi pedasnya cabai, sedikit-sedikit merica, asin garam dan kecap secukupnya agar agak manis. Aih, tak sadarlah aku bahwa menulis itu sama saja prinsipnya dengan memasak.

Bagaimana dengan kisahmu? Tak banyak kau bicara tentang itu dari suratmu. Kau ini, tiap berkirim surat hanya bisa bilang rindu-rindu dan rindu. Akupun tahu kau ini merindu, bagaimana bisa kau tak rindu jika tiap dua minggu suratmu selalu sampai di tanganku. Bodoh betul. Aku juga perlu kisahmu di sana, bagaimana Tanjung Perak? Bagaimana suasana di pelabuhan? Kapal apa saja yang kali ini mampir? Apa yang kau makan? Bagaimana dengan kawan-kawanmu? Yang penting segalanya tentang harimu itu tulislah habis. Aku ingin membacanya.

Maaf kalau-kalau suratku kali ini agak terlambat sampai. Hari ini tukang surat yang biasa, lupa membawa baju hujan. Ia pikir kita sudah di bulan kemarau, jadi tak butuhlah segala kerepotan membawa baju hujan. Ceroboh sekali memang. Atau mungkin ia masih awam dengan kebiasaan suratmu yang selalu membawa hujan. Sudahlah itu, ia melongo-longo melihat bulan kemarau yang gersang ini tiba-tiba terkunjung hujan. Aku tentu tak enak hati mengusirnya, terlebih ia ini punya jasa banyak atas hubungan kita. Kubuatkan ia secangkir teh dan kuajak berbincang sampai hujan selesai.

Sepertinya kami ini terlalu enak berbincang, sampai lupa bahwa percakapan harus selesai jika hujan juga selesai. Karena itulah aku terlambat mengirim balasan suratmu. Kantor pos keburu tutup. Kupikir kau tentu tak keberatan. Segera balas suratku.

Jelita.

                                                                                                                  ***

Rupawan terkasih,

Tega betul suratmu ini berlama sampai ke tanganku. Apa kau ingin membalas perlakuanku kemarin? Ah, janganlah kau dendam atas surat yang kuyakin hanya terlambat satu hari saja dari biasanya. Aku maklum jika hari itu kau keburu pulang cepat agar bisa segera membaca suratku, dan rupanya apa yang kau idamkan tak lantas datang seperti biasanya. Sehari tentulah bukan rentang yang panjang. Kau bekerja sampai sore, pulang bersih-bersih badan dan makan. Malamnya kau tentu lelah dan mampu segera tidur. Setelah itu, hari segera ganti, kau kembali kerja sampai sore, dan di sore kemudian itulah akhirnya suratku ini tiba. Maklumilah rindumu itu dan jangan kau jadikannya berdendam padaku.

Suratku kali inipun pasti akan terlambat. Kejadiannya sama seperti tempo hari itu. Hujan dan tukang surat lupa membawa baju hujan lagi. Tadi itu sudah kuingatkan padanya. Bahwa suratmu bukanlah surat biasa, ia surat pembawa hujan. Ia tertawa mendengarnya, kencang sekali. Ia katakan bahwa demikian itu hanya kebetulan. Aku menantangnya, bahwa surat balasanmu selanjutnya tentu akan teriring hujan pula. Ia terima tantangan itu. Angkuh yang seperti ini, yang tak mau dengar ucapan orang, tentu patut dikasih pelajaran. Itu alasan pertama mengapa suratku ini akan terlambat sampai. Alasan kedua, suratmu ini keterlaluan panjangnya. Maksud “keterlaluan”ku ini bukan sebagai hal buruk. Kuharap kau mampu menangkapnya dengan benar. Suratmu ini sampai sepuluh lembar besar dan tak bisa dibaca sebentar. Kau tuliskan segala yang kau alami selama dua minggu hidupmu. Aku senang sebenarnya membaca segala itu, tapi bukan demikianlah yang kumaksudkan. Aku memang ingin dengar banyak tentang kau. Aku memang memintamu bercerita lebih banyak. Tapi janganlah sampai permintaanku ini merepotkanmu. Tak perlu sampai kau habiskan sepuluh lembar dengan perincian segala yang kau bicangkan selama dua minggu, kapal-kapal apa saja yang menyandar, cuaca tiap hari, ikan yang kau makan dan segala seperti itu. Aku ingin lebih banyak tahu hidupmu secara umum saja, tapi tidak yang terlalu pendek.

Mari kini kuceritakan seperti apa hidupku belakangan. Oh kemarin muridku mengirim masakan. Tentu masakan itu aku yang mengajarkannya. Lucu sekali saat mencicipi masakan itu, seperti mengecap buatan sendiri saja. Novelku juga semakin maju, suasana hatiku ini mendadak nikmat untuk digunakan menulis. Aku juga menambah tokoh. Si tukang surat itu. Kupikir aneh jika aku tak memasukkannya. Kau tahulah, ia ini berjasa banyak buat kita, dan sekali dua minggu kami bertemu (meski sekedar serah terima surat saja). Bulan kemarau sedang panas-panasnya. Tapi berkat suratmu ini, kebun depan kita tak ada yang kering. Suratmu datang itu membawa hujan lebat dan suburlah tanaman kita. Mungkin sama saja seperti hatiku yang langsung bersemi ketika melihat tukang surat datang dan mengantarkan suratmu. Aih, sepertinya bagian ini bisa kumasukkan ke dalam novelku. Aku sedang sampai di bagian ketika sepasang kekasih itu terpisah. Mungkin menarik jika kumasukkan kejadian surat pembawa hujan, sebagai perlambangan.

Cepat-cepatlah kau balas surat ini. Betapa gemuruhnya rindu ini setiapku menulis surat untukmu.

Jelita.

                                                                                                                  ***

Rupawan terkasih,

Maaf jika segala yang kuminta belakangan justru membuatmu pusing. Mulai sekarang, tulislah apa yang hendak kau tuliskan. Aku takkan lagi mengeluhkan perihal panjang atau pendeknya penulisanmu. Seperti surat terakhirmu itu, yang, sungguh singkat. Tak apalah, mungkin suasana hatimu sedang tak enak menulis. Oh maaf pula karena sekarang ini aku sudah sangat terlambat membalas suratmu. Aku sedang terlalu banyak sibuk.

Kedatangan suratmu kemarin itu juga pertanda kemenangan pertaruhanku dan si tukang surat. Bodohnya lagi, ia tak membawa baju hujan dan tersitalah waktunya lagi menanti hujan reda. Besok-besok biar kusiapkan saja satu baju hujan di sini, kalau-kalau kelak ia berceroboh seperti tadi. Kebiasaan ia ini, sebenarnya membawa sedikit berkah. Kami jadi berkawan, meski tadinya sebatas percakapan menanti hujan. Ia punya beberapa kawan yang mahir menulis dan sering bertukar pikiran perihal menulis ini. Kupikir ada baiknya ia membaca novelku yang belum selesai. Kalau-kalau saja ia bisa memberikan pendapat yang ada gunanya. Kini hampir setiap hari ia mampir, meski bukan untuk mengantar surat. Kami banyak bertukar pikiran dan masukannya itu banyak yang bagus untuk kugunakan. Aku minta izin padamu, tampaknya akan lebih baik jika pasangan dalam novelku ini kupisahkan selamanya, meski tadinya mereka ini saling cinta. Setelah kupikir adegan ini baik untuk mengaduk emosi pembaca. Tentu bukan artinya aku ingin bersudah denganmu. Ini hanya kisah di novel saja, meski awalnya kisah novel ini berdasarkan kisah kita. Di kehidupan nyata, tentu aku ingin bersama kau. Walau kau saat ini tak ada denganku, bukan tak ada sebagai pasangan, tapi tentu dalam bentuk fisik. Kau mengertilah tentu.

Oh ya, aku sedang bertimbang. Ingat, masih sedang bertimbang. Kupikir akan menarik jika pada akhirnya gadis di novelku justru jatuh cinta pada si tukang surat. Bagaimana menurutmu?

Jelita.

Ario Sasongko
17 September 2012
BOM CERPEN

]]>
<![CDATA[PERBINCANGAN BUNG SEBELUM MEREKA PULANG]]>Wed, 31 Jul 2013 09:34:07 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/cerita-pendek/perbincangan-bung-sebelum-mereka-pulangMereka bilang aku suka berperang. Di sini kukatakan lagi, aku tak suka. Aku lebih suka duduk melamun dan merasakan hangatnya kepala Ningsih yang direbahkan di atas bahuku. Aku lebih suka bercinta dengannya, membesarkan anak kami yang sampai tempo hari itu hanya sebatas awang-awang saja.  Aku lebih suka berdansa setiap malam, tenggelam dalam lampu yang sengaja kami temaramkan sambil berpeluk erat. Banyak lagi yang aku suka, tapi bukan berperang. Tapi apakah aku punya pilihan lain? Terlebih ketika orang-orang sibuk berteriak merdeka, sejak Bung Karno membacakan proklamasi kemerdekaan kami, kemudian kemerdekaan itu hendak diambil kembali dari genggaman tangan kami yang masih terkepal erat. Aku tak bisa diam.

“Aku tak ingin anak kita kelak hidup dalam penjajahan, sama seperti yang kita alami.”
Jauh-jauh hari aku sudah mengatakan itu pada Ningsih. Namun mulutnya terus saja terkunci rapat. Kepalanya termangu, tak berani ia melekatkan kedua matanya padaku. Ia memikirkan keselamatanku. Siapa yang tidak? Mana ada gadis yang tak memikirkan keselamatan kekasihnya? Namun perjuanganku ini tak lain karena kecintaanku padanya.

“Apa kau begitu ingin? Apa pergi berperang jauh lebih baik ketimbang hidup di sini bersamaku?”
“Aku tak ingin. Tapi apakah aku bisa memilih? Kau tahu, aku tak dapat diam saja melihat kawan-kawan yang lain hidup dengan perjuangan mereka.”
“Apa kau tak ingin membesarkan anak dari rahimku? Tak pentingnya aku hanya demi sebuah kata “merdeka” itu rupanya.”
“Bukan demikian maksudku. Aku pergi demi kau jua. Demi anak yang kta cita-citakan itu.”
“Kalau kau pergi, matilah kau. Matilah cita-cita kita.”
“Kalau aku diam di sini. Hidup pula. Apa kau mau anak kita lahir dan tumbuh dengan kepala tertunduk-tunduk terhadap orang-orang dari negeri itu? Tak bosan kau tertunduk-tunduk terus semacam itu? Mau kau suruh anakmu kelak tertunduk pula?”
“Memang kalau kau pergi perang, akan menanglah kita? Merdeka? Sehebat itukah kau?”
“Tentunya tidak.”
“Kalau begitu, biarlah. Suruh saja orang lain yang pergi. Kurang satu orangpun tak pengaruh banyak bukan?”
“Tapi bagaimana kalau semua pemuda berpikiran demikian? Mau jadi apa nasib kita?”
“Kenyataannya tidak demikian. Banyak yang berangkat perang. Untuk apa kau ikut-ikutan?”
“Ningsih. Kemerdekaan ada di tangan setiap rakyat yang menginginkannya. Aku menginginkannya. Apa kau tidak?”
“Aku ingin kau di sini. Itu saja.”

Aku tak menuruti keinginan Ningsih. Pagi buta itu aku pergi, mencium keningnya, dan diam-diam kutinggalkan ia. Tak ada satu foto dirinyapun yang bisa kubawa, tak surat atau cinderamata dari kisah kami. Aku menyimpan Ningsih di dalam hatiku, dan kuingat lekat-lekat wajahnya, di dalam kepalaku.

Aku tak pernah berkabar padanya. Aku tak bisa mengirimi surat karena kami selalu berpindah-pindah di hutan. Gerliya. Beberapa tahun aku menghilang dari kehidupan yang sejak lahir kukenali baik-baik. Desing peluru dan aroma mesiu sudah menjadi suasana yang kini tak asing bagiku. Kami semua ya begini ini hidupnya. Setiap subuh kami menerima nasi bungkus. Saat menyantapnya, selalu terbesit keresahan akan takdir; Ini barangkali nasi terakhir yang kunikmati di dalam hidup ini. Saat menjelang fajar itu pula kami mulai bergerak dengan jantung yang berdegup terlalu kencang, semacam mendoakan agar ia dapat terus berdegup seperti ini sampai esok dan esoknya lagi. Aku mengerti betul mengapa Ningsih khawatir atas keselamatanku. Akupun demikian. Namun apalah artinya hidup selamat, jika aku harus dipaksa tersujud di atas tanah yang sudah kuinjak sejak lahir ini. Kami semua demikian ini, bertaruh nyawa agar nyamanlah hidup keturunan kami kelak. Merdeka itu bukan sekedar urusan untuk menjadi manusia bebas. Merdeka adalah semacam perjuangan yang nikmatnya tak hanya menjadi berkah bagi kami, namun juga orang-orang setelah kami. Pikiran semacam itulah yang membuat kami tak gentar menghadapi gempuran-gempuran lawan. Meski semangat itu sendiri sebenarnya tak cukup jika dibandingkan dengan altileri yang dimiliki lawan.

“Rindu lagi kau rupanya?”

Tomo, kawan terbaikku di sini, datang dan menangkap segala pikiranku yang mengawang. Sejak subuh aku hanya duduk menyandar di pohon, menyatu bersama senyapnya hutan, suara jangkrik, dan keheningan yang meresahkan. Tomo duduk di sebelahku.

“Aku ragu Ningsih memaafkanku.”
“Ah, apakah benar demikian yang kau tangkap dari segala amarahnya?”
“Maksudmu?”
“Bukan hanya kau saja, bung, yang pergi meninggalkan kekasih. Aku dan semua kawan di sinipun demikian. Siapa yang rela melihat kekasihnya pergi bertaruh nyawa?”
“Tak ada.”
“Persis! Anggaplah saat ini ia marah padamu. Tapi, saat kau kembali kelak, akan dipeluk kau erat-erat. Akan ia tumpahkan amarah itu berupa kerinduan yang mendalam.”
“Tapi aku telah meninggalkannya begitu saja. Siapa gadis yang terima diperlakukan demikian?”
“Kau tak meninggalkannya. Koreksilah ucapanmu itu. Tidak baik kau berkata demikian.”
“Lantas, disebut apalah tindakanku itu yang pergi subuh-subuh, sama seperti sekarang, menghilang tanpa ada sepatahpun yang kujanjikan padanya.”
“Kau melakukan apa yang harus kau lakukan. Benar, kau pergi darinya, namun pergi bukan karena ingin meninggalkannya. Kau sedang berjuang untuknya, untuk bangsa ini. Kau memang pergi, namun kau bawa dirinya itu, lekat-lekat di dalam hatimu."

“Entah. Kuharap iapun melekatkan diriku ini di dalam hatinya.”
“Pasti demikian. Semua gadispun demikian. Tak hanya gadismu Ningsih itu, gadisku pun sedang menungguku di rumah. Kemana kau pergi setelah semua perkara ini berakhir?”
“Ke pelukan Ningsih, tentu.”
“Demikian itulah yang nanti akan terjadi. Itulah yang kukatakan padamu, anggaplah saat ini ia marah padamu. Tapi, saat kau kembali kelak, akan dipeluk kau erat-erat. Akan ia tumpahkan amarah itu berupa kerinduan yang mendalam.”

Semacam inilah Tomo selalu dapat menenangkan resahku. Kami selalu bersebelahan, berjuang menghadapi gempuran penjajah dan sekutunya. Ia adalah pemuda dengan mata yang selalu menyala, yang selalu berbinar tiap kali ledakan maha gelora itu berdentum di hadapan kami. Ia adalah nyali yang tak pernah gentar, dengan kekuatan yang entah datangnya darimana.

“Bung, bagaimana dengan kau? Apakah kau pergi serupa denganku?”
“Kurang lebih demikian pula aku pergi dari Sri. Ia tak melarangku, namun ia tak berhenti menangis. Serba salah aku dibuatnya.”
“Lantas? Apa yang kau lakukan?”
“Aku ada di sini sekarang, itulah yang kulakukan Bung. Tak ada lagi hal lain yang pantas dilakukan pemuda-pemuda bangsa ini, kecuali ikut berperang. Jika kita mati, matilah kita di tanah yang kita cintai.”
“Inilah. Perkara mati inilah yang jadi urusan besar Bung. Jika aku mati, habislah Ningsih pula, luruhlah ia dalam kecewa itu.”
“Bung, apa kau cinta bangsa ini? Apa kau cinta merdeka?”
“Tentu aku cinta sekali.”
“Sama seperti cintamu pada Ningsih?”
“Aku tak dapat memisahkan itu semua. Aku cinta pada merdeka, pada bangsa ini. Aku cinta pula pada Ningsih.”
“Dengan cinta itulah, tak perlu kau pikirkan mati Bung. Mati adalah mati, tapi jangan kau matikan nyala di dirimu, sebelum mati itu benar-benar terjadi.”

Kami mendapatkan aba-aba untuk menyiapkan persenjataan. Aku dan Tomo beranjak dari perbincangan kami, dan mulai bersiap-siap.

“Ada sebuah perkara yang aku resahkan.”
“Apa itu?”
“Bagaimana dengan kehidupan pemuda kelak, ketika bangsa ini sudah merdeka? Mana yang kelak lebih mereka cintai? Bangsa ini atau gadis yang telah membuat mereka jatuh hati?”
“Apakah itu harus dipertanyakan?”
“Tentu. Kita ini berbeda, lahir terjajah, hidup terjajah. Saat kesempatan untuk merdeka itu hadir, maka kita perjuangkan itu mati-matian. Tapi, bagaimana dengan pemuda-pemuda yang kelak lahir merdeka, hidup merdeka? Apakah mereka akan mencintai bangsa ini, seperti bagaimana kita mencintainya? Maukah mereka mengorbankan hidup demi bangsa dan negara? Atau mereka memilih untuk hidup dalam bercinta-cintaan semata, menikah dan melahirkan anak?”
“Entahlah bung. Kupikir janganlah kau memikirkan itu dulu. Sekarang berjuang sajalah kita, merdekalah kita. Kelak perjuangan ini akan selalu dikenang. Kita buatlah contoh, para pemuda memberikan peranan penting bagi kemerdekaan bangsa ini.”

Kamipun bergegas. Hari ini adalah hari yang bersejarah. Saat fajar menyingsing, kami akan melakukan sebuah serangan yang membawa perubahan cukup besar dalam perjuangan revolusi bangsa. Tomo mati tertembak dalam pertempuran ini, aku melihatnya ketika peluru itu tertembus kepalanya dan tergeletaklah ia di tanah. Pikirannya menggelinang, merah pekat dan terserap ke dalam tanah. Semoga kelak pikiran-pikirannya itu akan tumbuh subur di tanah ini. Demikianlah pula kudoakan bagi tiap tetes darah kawan-kawanku yang terserap di tanah. Biarlah tanah ini menjadi basah, dan subur di kemudian hari.

Ini adalah peperangan terakhirku, perang yang paling kubenci sekaligus tak dapat kulupakan. Pagi itu aku kembali ke rumah. Tak kutemukan Ningsih berdiri di depan pintu. Tak sempat pula aku masuk ke dalam. Tomo sudah keburu menyusulku. Ia remas bahuku, dan tatapannya itu tak dapat kusangkal.

“Relakanlah, bung.”
Kamipun pergi. Tak sempat aku memberikan perpisahan pada Ningsih.

Di pagi itu, Ningsih terbangun dari tidurnya. Tak ia temukan lagi aku yang biasa berbaring tepat di sebelahnya. Sejak kepergianku demi bangsa ini, tak pernah lagi ia temukan diriku, seumur hidupnya.

Tamat

Ario Sasongko
18 Juni 2012
BOM CERPEN
]]>
<![CDATA[Kisah Tentang Laut]]>Wed, 31 Jul 2013 09:22:33 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/cerita-pendek/kisah-tentang-laut“Aku ingin menulis tentang laut.”
“Apa kau pernah ke laut?”
“Itulah.”
“Apa?”
“Tak pernah.”

Aku jarang bertemunya, walau aku tahu di mana harus mencari gadis itu. Di bawah pohon, dekat sungai dan jembatan berwarna merah di belakang kantin kampus. Demikian pula aku pertama kali melihatnya, sedang duduk membaca buku “Demian” karya Hermann Hesse. Kami berkenalan, entah ini disengaja atau tidak, ia menyapaku lebih dulu saat aku sibuk melempari batu-batu pipih dan menghitung pantulannya di atas air sungai yang tenang.
Berikutlah yang kemudian terjadi. Ia menyapa hanya untuk memintaku berhenti melempari batu-batu itu ke sungai. Kutanya alasannya dan ia hanya diam. Lantas kembalilah kulempar batu lainnya ke sungai itu, memantul di permukaan air beberapa kali. Ia kembali memintaku berhenti untuk melakukannya. Aku minta ia menjelaskannya. “Aku tak suka.” Hanya itulah penjelasannya, lalu kembali membaca.

Namanya Nirma. Mengingatkanku akan penyihir cilik dalam kisah anak-anak yang kubaca tiap minggu di sebuah majalah. Sama pula seperti namanya, ia memiliki sihir itu, yang akhirnya membuatku terpaksa menuliskan kisah kami. Nirma adalah seorang gadis yang senang berpikir, sesuai pula dengan jurusan perkuliahannya, filasafat.

“Banyak lulusan jurusanmu yang menjadi kurator seni. Apa kau berencana menjadi satu?”
“Tidak. Aku ingin menulis.”
“Oh. Kau ingin jadi penulis?”
“Entahlah, aku hanya ingin menulis. Definisi itu tidak penting.”

Bukan karena ia terbiasa mempelajari filsafat, yang artinya secara umum, ia akrab bergelut dengan pembahasan-pembahasan yang filosofis, maka seringlah ia mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tak mudah dicerna. Kupikir ia memang seorang yang sudah begitu dari sananya, bukan sekedar faktor akademisi filsafat semata. Justru mungkin disiplin ilmu itu hanyalah jembatan dari karakternya, menuju pemaknaan yang selalu ia pandang di dunia ini. Dari pemikirannya itulah sihirnya bekerja, dan aku menjadi korban.

Nirma tak punya seorangpun teman. Ini bukan karena persoalan anti sosial, atau benci terhadap manusia lain, atau perihal semacam itu. Ia hanya terbiasa tak memiliki teman. Sejak kecil ia selalu sendirian, bermainpun sendirian. Ia bilang Ayahnya pergi pada suatu malam, tengah malam. Orang-orang bertubuh besar, pada suatu malam itu mendobrak rumahnya, menarik ayahnya, serta membakar buku-buku di rumah itu. Entah buku apa itu, ketika kecil Nirma belum bisa memahaminya. Buku itu warnanya merah, beberapa ada lambang palu dan arit yang bersilang. Deskripsinya membuat aku tergelitik untuk menerka.

“Komunis?”
“Ya, itulah.”
“Bapakmu PKI[1]?”
“Mungkin.”
“Jika bukan, lantas apa?”
“Ia selalu menulis. Itu saja yang kuingat.”

Keluarganya memang tak pernah membahas perihal ini, terlebih sejak ayahnya itu pergi. Mungkin mereka sudah lelah dengan segala urusan semacam itu. Aku bisa mengerti jika membayangkan bagaimana kemudian keluarga itu mendapat stigma yang sama oleh masyarakat sekitar. Memang sejak kejadian itulah, Nirma jadi tak punya teman. Umurnya baru lima tahun, dan kenangan pertamanya adalah bagaimana ia bermain di teras, berbicara lantang-lantang dengan dirinya sendiri, seolah sedang bermain dengan teman-teman sebayanya.

Sejak itulah, mungkin karena tak punya teman, Nirma jadi senang menulis. Apa-apa selalu ditulisnya. Pernah ia mendapat kesempatan untuk menulis kepada ayahnya. Berlembar-lembar ia tulis, ia ceritakan segala hari sejak kepergian ayahnya tersebut. Namun, beberapa minggu kemudian ibunya meminta Nirma untuk berhenti melakukan itu. Ia bilang surat tersebut kini takkan mungkin sampai. Nirma tak pernah bertanya mengapa, dan ibunya tak pernah menjelaskan.

Suatu hari, ibu Nirma mengajaknya naik kereta. Senang betul dirinya ketika dikabarkan rencana itu, menurut pula ketika ibunya meminta Nirma memasukan semua bajunya ke dalam tas besar. Nirma memang tak pernah naik kereta, dan sekali inilah pengalaman pertamanya pergi naik kereta. Ia tak peduli ke mana kereta ini akan membawanya. Walau selama perjalanan, ibunya selalu mengajak Nirma membahas pamannya, sosok pria berpeci dan jenggot tebal yang agak-agak sukar ia ingat wajahnya. Ibunya juga terus saja bercerita tentang Jakarta, tentang bus tingkat dan kendaraan bernama bajaj. Nirma tak terlalu menghiraukan omongan ibunya tersebut. Ia hanya sibuk memperhatikan pemandangan yang terus berkelebat cepat di jendela, serta suara kereta yang konstan terus saja ia dengar. Ia tak tahu bahwa perjalanan itu tak pernah membawanya pulang. Ibunya pulang, tapi ia ditinggal di Jakarta bersama pamannya itu.

Pamannya adalah seorang ulama yang dihormati di wilayahnya. Setiap minggu Nirma pasti diajak pergi, duduk di masjid dan menyaksikan bagaimana pamannya itu berceramah, membahas surga dan neraka, baik-buruk, sambil sesekali disempali dengan nilai-nilai pancasila serta puji-pujian bagi presiden kami, Soeharto. Setiap pulang, orang-orang berebut menciumi tangan pamannya tersebut. Ia hanya memperhatikan kerumunan itu, dan tingkah orang-orang yang berebutan menciumi punggung tangan pamannya, kegiatan yang setiap pagi selalu ia lakukan dan tak merasa luar biasa pula karenanya. Dari balik sosok pamannya, dan memperhatikan tingkah laku mereka, semakin lama Nirma semakin tak mampu memahami pikiran orang-orang di sekitarnya.

Nirma tak terbiasa punya teman, sejak kecil demikian. Saat tinggal di Jakartapun, Nirma masih meneruskan hobinya, bermain sendiri di teras sambil berkata dengan lantang seolah sedang bermain dengan teman sebayanya. Selain itu Nirma masih sering menulis surat untuk ayahnya, menceritakan segala apa yang dialaminya, walau ia tak pernah mengirimkan surat itu. Ia tak tahu mau mengirimkannya ke mana.

“Semenjak itu kau ingin menjadi penulis?”
“Aku tak tahu hal lain, selain menulis.”
“Dan alasanmu belajar filsafat?”
“Entahlah. Orang bilang belajar filsafat itu belajar kehidupan.”
“Kau setuju?”
“Tak tahu.”

Entah mengapa ia menceritakan semuanya ini padaku, dan entah mengapa aku menceritakan ini pada kalian. Mungkin aku merindukan Nirma, karena sejak semester awal pertemuan kami, aku makin terus memikirkannya, meski selama itu pula kami jarang bertemu.

Bagiku gadis ini sama saja seperti laut. Luas dan dalam. Seumur hidupku hanya kulihat dia duduk di bawah pohon itu, di dekat sungai dan jembatan merah belakang kantin kampus. Kami memang jarang bertemu, namun setiap bertemu itulah ia sedikit-sedikit menceritakan hidupnya, dan itu terus berlangsung sampai menjelang kami lulus kuliah.

Dia tak ikut wisuda, kutemukan ia duduk di bawah pohon yang sama di dekat sungai dan jembatan merah belakang kantin kampus. Tak terkejut aku melihatnya di sana. Aku menyapanya, dan dia datar saja, seperti biasa. Apa rencananya setelah lulus kuliah, itulah awal ketika ia menyampaikan keinginannya. Ia bilang ingin menulis di laut. Walau ia tak pernah pergi ke laut. Apa yang membuatnya ingin tertarik dengan laut? Apakah ia menemukan kemiripan itu? Bahwa aku menganggap dirinya sama dengan laut, luas dan dalam.

Aku memang tak pernah dapat memahami pemikirannya, ia memandang dengan sangat luas, terlalu luas bahkan. Kupikir tak seorangpun pula pernah mengarahkannya untuk berpikir apa, terlebih sejak kepergian ayahnya. Ia anak yang terbiasa sendiri, dan sendiri pulalah ia memikirkan hidupnya itu.

“Apa yang ingin kau tulis tentang laut?”
“Segalanya?”
“Contohnya?”
“Surat-suratku yang tak pernah sampai.”
“Kepada ayahmu?”
“Ya.”
“Kau ingin menulis tentang ayahmu?”
“Entahlah.”
“Lalu?”
“Ayahku mati di laut.”

Setelah kupikir-pikir, memang tampaknya aku sama sekali tak sedang bercerita tentang kisah kami. Aku bercerita tentang diriku, gadis yang ingin menulis kisah tentang laut.


Ario Sasongko
13.04.2012
BOM CERPEN

*Cerpen dapat pula dibaca di bomcerpen.com
]]>