<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[Ario sasongko - Tulisan, Pikiran]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran]]></link><description><![CDATA[Tulisan, Pikiran]]></description><pubDate>Sun, 13 Nov 2022 07:45:56 -0800</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Membiarkan Waktu Ada]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/membiarkan-waktu-ada]]></link><comments><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/membiarkan-waktu-ada#comments]]></comments><pubDate>Tue, 26 Jan 2016 10:13:07 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/membiarkan-waktu-ada</guid><description><![CDATA[Kita membicarakan waktuMembiarkannya adaApakah perjalanan memiliki akhir jika waktu berhenti bekerja?Kebahagiaan kita akan direnggut waktukesedihan pun demikianSiapakah yang lebih egois,waktuataumanusia?Sementara kita membiarkan waktu bekerja, membiarkannya adaPernahkah berpikir untuk mengajak waktu bicara?Mengajaknya menepi sejenak dari pekerjaannyaMenikmatinyaMembuahinyaKupikir, hanya waktulah hal yang paling memahami manusiaIa memberikanmu kenangan, menitipkanmu masa depanIa ada dalam keadaan [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:left;"><span>Kita membicarakan waktu</span><br /><span>Membiarkannya ada</span><br /><span>Apakah perjalanan memiliki akhir jika waktu berhenti bekerja?</span><br /><br /><span>Kebahagiaan kita akan direnggut waktu</span><br /><span>kesedihan pun demikian</span><br /><span>Siapakah yang lebih egois,</span><br /><span>waktu</span><br /><span>atau</span><br /><span>manusia?</span><br /><br /><span>Sementara kita membiarkan waktu bekerja, membiarkannya ada</span><br /><br /><span>Pernahkah berpikir untuk mengajak waktu bicara?</span><br /><span>Mengajaknya menepi sejenak dari pekerjaannya</span><br /><span>Menikmatinya</span><br /><span>Membuahinya</span><br /><br /><span>Kupikir, hanya waktulah hal yang paling memahami manusia</span><br /><span>Ia memberikanmu kenangan, menitipkanmu masa depan</span><br /><span>Ia ada dalam keadaan apapun, selalu mengajakmu berjalan</span><br /><span>dan ia memberikanmu hadiah yang paling menyenangkan tiap harinya, yaitu tiap detik yang biasa kau sebut saat ini.</span><br /><br /><span>Ketika memikirkannya, kurasa tak ada yang lebih setia dibandingkan dengan waktu.</span><br /><br /><span>Dan kita membenci waktu</span><br /><span>takut olehnya</span><br /><span>Dan kita mengumpat ketika waktu melumatkan kebahagiaan menjadi kenangan.</span><br /><span>Dan kita selalu membenci waktu yang seorang pejalan cepat.</span><br /><span>Pikiran-pikiran jahat selalu muncul di benak anak-anak manusia</span><br /><span>Sebuah keinginan untuk membunuh,</span><br /><span>membunuh waktu.</span><br /><br /><span>jika kita berlari sekuat tenaga, akankah kita bisa lebih cepat dari waktu?</span><br /><span>Adakah hal lain yang lebih dekat dalam hidup ini,</span><br /><span>kecuali waktu yang berjalan?</span><br /><br /><span>260116</span><br /><span>Kantor Imigrasi</span><br /><span>nomor urut 35</span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Melupakan Sepi]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/melupakan-sepi]]></link><comments><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/melupakan-sepi#comments]]></comments><pubDate>Wed, 20 Jan 2016 08:08:05 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/melupakan-sepi</guid><description><![CDATA[Aku melupakan pagiYang biasa melampirkan sepi pada harapan.Aku melupakan hariDan sehirup pembicaraan satu arah dengan diriku sendiriPertemuan adalah pena cerita&#8203;Nasib kemudian menjadi penulisnyaManusia hanya memiliki hak pada nasibSeperti pertemuan tatapan mata yang tak sanggup meraih hati masing-masingOrang-orang malang kemudian meratapi patah hati dengan tulusKemudian kota ini mengasuh mereka di sepanjang jalan yang sepi dan melelahkanPatah hati masih lebih baik dibanding lupa mesranya k [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:left;"><span>Aku melupakan pagi<br />Yang biasa melampirkan sepi pada harapan.<br />Aku melupakan hari<br />Dan sehirup pembicaraan satu arah dengan diriku sendiri</span><br /><br /><span>Pertemuan adalah pena cerita<br />&#8203;Nasib kemudian menjadi penulisnya</span><br /><br /><span>Manusia hanya memiliki hak pada nasib<br />Seperti pertemuan tatapan mata yang tak sanggup meraih hati masing-masing</span><br /><br /><span>Orang-orang malang kemudian meratapi patah hati dengan tulus<br />Kemudian kota ini mengasuh mereka di sepanjang jalan yang sepi dan melelahkan</span><br /><br /><span>Patah hati masih lebih baik dibanding lupa mesranya kecupan jatuh cinta</span><br /><br /><span>Sepi adalah candu</span><br /><br /><span>120116<br />&#8203;Menunggu kereta terakhir</span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Seorang Pria dan Sebuah Taman]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/seorang-pria-dan-sebuah-taman]]></link><comments><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/seorang-pria-dan-sebuah-taman#comments]]></comments><pubDate>Wed, 13 Jan 2016 09:01:20 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/seorang-pria-dan-sebuah-taman</guid><description><![CDATA[Pria itu menyimpan taman di janggutnyayang ia bacakan ketika malam merindukan pagi.&nbsp;Lalu ia relakan sepotong-sepotong puisi untuk dinikmati siapa saja.&nbsp;Pria itu meniadakan kota dan menggambar hidupnya seukuran taman.Ia tanam puisi di atas tanah, dan mencabutnya satu persatu ketika lapar.&nbsp;Pria itu menulis nasib di sehelai kertas.Ketika sakit, ia pergi berobat ke para penyair.Lalu ia ia berikan sehelai kertas resep obat, minta dituliskan sajak tentang apa saja.&nbsp;100116Menteng-Ra [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:left;"><br />Pria itu menyimpan taman di janggutnya<br />yang ia bacakan ketika malam merindukan pagi.<br />&nbsp;<br />Lalu ia relakan sepotong-sepotong puisi untuk dinikmati siapa saja.<br />&nbsp;<br />Pria itu meniadakan kota dan menggambar hidupnya seukuran taman.<br />Ia tanam puisi di atas tanah, dan mencabutnya satu persatu ketika lapar.<br />&nbsp;<br />Pria itu menulis nasib di sehelai kertas.<br />Ketika sakit, ia pergi berobat ke para penyair.<br />Lalu ia ia berikan sehelai kertas resep obat, minta dituliskan sajak tentang apa saja.<br />&nbsp;<br />100116<br />Menteng-Rawamangun<br />Sepanjang sore sampai malam</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Perempuan yang Menyimpan Jarak di Saku Bajunya]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/-perempuan-yang-menyimpan-jarak-di-saku-bajunya]]></link><comments><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/-perempuan-yang-menyimpan-jarak-di-saku-bajunya#comments]]></comments><pubDate>Fri, 08 Jan 2016 10:58:31 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/-perempuan-yang-menyimpan-jarak-di-saku-bajunya</guid><description><![CDATA[&ldquo;Di hari lain pun, kalian tidak selalu bertemu.&rdquo;Ia menatapku, tak melanjutkan ucapannya. Tanpa ia lanjutkan pun sebenarnya aku tahu apa yang ingin ia katakan.&ldquo;Tapi ini berbeda dari hari lain. Ini.&rdquo;&ldquo;Bukannya sama saja?&rdquo; seperti biasanya, ia memotong ucapanku.&nbsp;&ldquo;Berbeda.&rdquo;Aku akan selalu berdebat dengannya tentang banyak hal, semua hal.&ldquo;Apanya?&rdquo;&ldquo;Jarak.&rdquo;Ia duduk bersandar di sebelahku. Tiap kali seperti ini, aku akan masuk k [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:left;">&ldquo;Di hari lain pun, kalian tidak selalu bertemu.&rdquo;<br />Ia menatapku, tak melanjutkan ucapannya. Tanpa ia lanjutkan pun sebenarnya aku tahu apa yang ingin ia katakan.<br />&ldquo;Tapi ini berbeda dari hari lain. Ini.&rdquo;<br />&ldquo;Bukannya sama saja?&rdquo; seperti biasanya, ia memotong ucapanku.&nbsp;<br />&ldquo;Berbeda.&rdquo;<br />Aku akan selalu berdebat dengannya tentang banyak hal, semua hal.<br />&ldquo;Apanya?&rdquo;<br />&ldquo;Jarak.&rdquo;<br /><br />Ia duduk bersandar di sebelahku. Tiap kali seperti ini, aku akan masuk ke dalam sebuah ruang yang hanya kumiliki sendiri. Tak ada seorang pun yang pernah kuizinkan masuk ke dalam ruangan ini, kecuali dia.<br /><br />&#8203;&ldquo;Memang kenapa dengan jarak?&rdquo; ia menatapku saat menanyakannya.<br />&ldquo;Jarak membedakan banyak hal. Kau akan merasa tenang ketika merindukan seseorang dan menyadari bahwa sebenarnya kau bisa menemuinya kapan pun kau mau.&rdquo;<br />&ldquo;Meski kenyataannya kalian juga tak tiap hari bertemu?&rdquo;<br />Aku mengangguk, &ldquo;Bertemu setiap hari pun tak artinya saling memiliki.&rdquo;<br />&ldquo;Karena apa?&rdquo;<br />&ldquo;Jarak.&rdquo;<br /><br />&#8203;<br />080115<br />Merenungi jarak<br />untuk beberapa hari</div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Jatuh Cinta]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/jatuh-cinta]]></link><comments><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/jatuh-cinta#comments]]></comments><pubDate>Thu, 07 Jan 2016 06:39:25 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/jatuh-cinta</guid><description><![CDATA[&#8203;Kehidupan ini tak diciptakan untuk kita.Seperti seorang yang jatuh cinta,kita harus berjuang untuk mendapatkan perhatiannya.5 Januari 2016Di tengah lamunan@thesasongkoo&#8203;Ario Sasongko [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:left;">&#8203;Kehidupan ini tak diciptakan untuk kita.<br />Seperti seorang yang jatuh cinta,<br />kita harus berjuang untuk mendapatkan perhatiannya.<br /><br />5 Januari 2016<br />Di tengah lamunan<br /><br /><a href="https://twitter.com/thesasongkoo">@thesasongkoo</a><br />&#8203;<a href="https://www.facebook.com/mythofstoryteller">Ario Sasongko</a></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Pikiran Seorang Penanti (1)]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/pikiran-seorang-penanti-1]]></link><comments><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/pikiran-seorang-penanti-1#comments]]></comments><pubDate>Sat, 02 Jan 2016 03:21:51 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/pikiran-seorang-penanti-1</guid><description><![CDATA[Mari bicarakan ini&nbsp;dengan cara terumit yang paling sederhana.Kau tahu, kita, sejak dulu rupanya, kita paling mahir melakukannya.Tak ada cara lain yang lebih baik dari mengatakan, dengan tidak mengatakan.Tak ada tatapan yang lebih baik dari kesunyian yang menyertainya.Serta pengertian yang tak perlu disampaikan.Kita adalah sepasang, satu-satunya di dunia,yang bisa meniadakan perpisahan di ujung malam,dan menyisakan kerinduan di pangkal pertemuan.Aku memiliki firasat kecil,&nbsp;yang kukataka [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:left;">Mari bicarakan ini&nbsp;dengan cara terumit yang paling sederhana.<br />Kau tahu, kita, sejak dulu rupanya, kita paling mahir melakukannya.<br /><br />Tak ada cara lain yang lebih baik dari mengatakan, dengan tidak mengatakan.<br />Tak ada tatapan yang lebih baik dari kesunyian yang menyertainya.<br />Serta pengertian yang tak perlu disampaikan.<br /><br />Kita adalah sepasang, satu-satunya di dunia,<br />yang bisa meniadakan perpisahan di ujung malam,<br />dan menyisakan kerinduan di pangkal pertemuan.<br /><br />Aku memiliki firasat kecil,&nbsp;yang kukatakan pada&nbsp;diriku,<br />Ketika kau menyempatkanku sebelum.<br />Sebelum,&nbsp;waktu.<br /><br />Kau tahu, sesuatu yang baik datang<br />kelak<br />ketika<br /><br />(kembali)<br /><br />&#8203;30 12 15<br />Terselip di tengah lamunan<br /><br /><a href="https://twitter.com/thesasongkoo">@Thesasongkoo</a><br /><a href="https://www.facebook.com/mythofstoryteller">Ario Sasongko</a><br /><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Pertengkaran Pertama]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/pertengkaran-pertama]]></link><comments><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/pertengkaran-pertama#comments]]></comments><pubDate>Thu, 31 Dec 2015 07:32:09 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/pertengkaran-pertama</guid><description><![CDATA[Semua orang pasti memiliki pertengkaran pertamanya dengan seseorang. Pembahasanku ini tak hanya sekedar tentang cinta, atau kekasih. Jika kau belum pernah bertengkar dengan seseorang yang dekat denganmu, baik itu kekasih atau sahabat, kupikir itu berarti kau tak memiliki hubungan yang sehat.Setiap orang memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentu hal-hal seperti ini sudah sering kalian dengar. Sampai hari ini aku selalu kagum ketika memb [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:left;"><br />Semua orang pasti memiliki pertengkaran pertamanya dengan seseorang. Pembahasanku ini tak hanya sekedar tentang cinta, atau kekasih. Jika kau belum pernah bertengkar dengan seseorang yang dekat denganmu, baik itu kekasih atau sahabat, kupikir itu berarti kau tak memiliki hubungan yang sehat.<br /><br />Setiap orang memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tentu hal-hal seperti ini sudah sering kalian dengar. Sampai hari ini aku selalu kagum ketika membayangkan bagaimana mungkin kita kemudian bisa menjadi demikian dekat dengan orang-orang yang demikian berbeda dengan diri kita.&nbsp;Kemudian datanglah pertengkaran pertama. Pertengkaran ini biasanya terjadi karena hal-hal kecil yang tidak penting.<br /><br />Tak ada yang menyukai pertengkaran, seharusnya begitu. Jika kuperhatikan, teman-temanku selalu mengeluh jika mereka sedang bertengkar dengan seseorang.&nbsp;Namun bagiku, harusnya pertengkaran bukanlah sebuah masalah besar.<br /><br />Kita membutuhkan pertengkaran, terutama pertengkaran pertama, karena itu berarti kita masing-masing sedang belajar untuk memahami satu sama lain. Hanya dengan begitulah, kita bisa mencari jalan untuk menyatukan perbedaan-perbedaan dalam diri kita dan orang-orang yang dekat dengan kita.<br /><br />Tak ada yang lebih indah dari perengkaran pertama kita, dan menyadari bahwa dulu kita hanya dua orang asing yang kini mencoba saling untuk mengerti.<br /><br />30 12 15<br /><br /><a href="https://twitter.com/thesasongkoo">@thesasongkoo</a><br /><a href="https://www.facebook.com/mythofstoryteller">Ario Sasongko</a></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Give Away dan Review Buku Perfect Pain]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/give-away-dan-review-buku-perfect-pain]]></link><comments><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/give-away-dan-review-buku-perfect-pain#comments]]></comments><pubDate>Fri, 18 Dec 2015 13:48:58 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/give-away-dan-review-buku-perfect-pain</guid><description><![CDATA[       Mencintai itu mudah,namun sejauh apa kamu mau berkorban demi sebuah cinta?Pertanyaan itulah yang muncul di pikiranku setelah membaca novel Perfect Pain karya Anggun Prameswari.Novel ini berbicara banyak hal tentang cinta dan kasih sayang. Cinta antara Bidari dan Karel, anaknya, yang harus tegar menghadapi kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Bram, suami Bidari. Selain itu, ada pula jalinan kasih sayang antara Bidari dan Sidhu, seorang pengacara, yang membantu Bidari dalam menghadap [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"> <a> <img src="http://ariosasongko.weebly.com/uploads/6/0/4/4/6044136/8981887.jpg?323" alt="Picture" style="width:323;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%"></div> </div></div>  <div class="paragraph" style="text-align:left;"><em>Mencintai itu mudah,</em><br /><em>namun sejauh apa kamu mau berkorban demi sebuah cinta?</em><br /><br />Pertanyaan itulah yang muncul di pikiranku setelah membaca novel <em>Perfect Pain</em> karya Anggun Prameswari.<br /><br />Novel ini berbicara banyak hal tentang cinta dan kasih sayang. Cinta antara Bidari dan Karel, anaknya, yang harus tegar menghadapi kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Bram, suami Bidari. Selain itu, ada pula jalinan kasih sayang antara Bidari dan Sidhu, seorang pengacara, yang membantu Bidari dalam menghadapi masalahnya.<br />Pada awalnya, novel ini terkesan akan bercerita mengenai hal yang cukup gelap, kekerasan dalam rumah tangga. Namun, sebagai pembaca, aku bisa menjanjikan bahwa novel ini akan menyuguhkan kisah dan pelajaran yang sangat indah mengenai kasih sayang dan cinta. Berikut ini sedikit alasannya.<br /><br />Aku sangat menyukai cara bab-bab awal novel ini menuturkan cerita.&nbsp;</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph" style="text-align:left;"><span>Di sana, aku bisa ikut merasakan keraguan psikologis Bidari dalam menghadapi Bram. Dalam satu malam, Bram bisa demikian kasar. Namun pada pagi harinya, Bram bisa menjadi sosok suami terbaik, laki-laki yang diidamkan oleh perempuan manapun. Aku juga bisa ikut tersentuh dengan kekuatan cinta yang ditunjukkan Karel, sekaligus sedih membayangkan seorang anak kecil melihat Ibu yang sangat ia cintai disakiti oleh ayahnya sendiri.</span><br /><br /><span>Hubungan dan kombinasi karakterisasi tokoh Karel dan Bidarilah yang awalnya membuat aku terikat dengan cerita ini. Sebagai pembaca, sikap peragu Bidari berhasil mengaduk emosi, mampu membuat aku kadang merasa kesal. Kemudian, hal ini dipadukan dengan sikap Karel yang sangat ingin melindungi Ibunya. Hubungan kedua tokoh inilah yang kemudian memberikan semacam harapan padaku sebagai pembaca untuk terus mengikuti cerita dan membayangkan akhir yang bahagia bagi keduanya.</span><br /><br /><span>Novel ini mampu menggali karakter para tokohnya dengan sangat dalam. Seperti contohnya tokoh Bidari. &nbsp;Ternyata ada alasan di balik mengapa Bidari memiliki sikap yang terkesan lemah dan peragu. Melalui interaksi Bidari dengan ayah dan Ibunya, aku kemudian bisa lebih memahami alasan mengapa tokoh Bidari bisa memiliki sikap seperti itu. Kemampuan Anggun Prameswari dalam menciptakan latar belakang karakter yang baik, serta menyampaikannya dalam alur cerita, membuat aku bisa memahami tokoh Bidari sebagai seorang perempuan, seorang ibu, juga sebagai seorang anak. Hebatnya, Anggun bisa dengan baik melakukan hal yang sama pada semua tokohnya.</span><br /><br /><span>Aku tak bisa berbicara terlalu banyak, karena hal itu akan mengurangi kejutan-kejutan dan keindahan yang kurasakan ketika pertama kali membaca novel ini.</span><br /><br /><em>Perfect Pain</em><span>, aku agak mengerutkan kening saat pertama kali membaca judul ini. Bagaimana mungkin ada kepedihan yang sempurna? Barangkali aku salah. Barangkali aku ada benarnya. Satu hal yang pasti, aku menutup buku ini dengan sebuah senyuman. Seolah kini aku bisa lebih memahami makna cinta dan&nbsp;kasih sayang.</span><br /><br /><em>Mungkin bukan keindahan yang membuat kita bisa memahami cinta.</em><br /><em>Mungkin kita membutuhkan kepedihan,</em><br /><em>agar kita dapat lebih memahami berharganya perasaan yang Tuhan titipkan pada setiap manusia,</em><br /><em>bernama cinta.</em><br /><span>&nbsp;</span><br /><strong>Give Away Novel&nbsp;<em>Perfect Pain</em></strong><br /><br /><span>Semua orang tentu pernah mengalami kepedihan.</span><br /><br /><span>Untuk merayakan terbitnya novel&nbsp;</span><em>Perfect pain,&nbsp;</em><span>aku ingin membagikan 1 novel ini pada seorang pembaca yang beruntung.</span><br /><br /><span>Syaratnya sangat mudah:</span><br /><br /><span>Silakan ceritakan dengan singkat pengalaman kepedihan yang pernah kalian alami dan tak bisa kalian lupakan. Pelajaran apa yang kalian dapat dari kepedihan itu? Tuliskan pengalaman kalian pada kolom komentar di bawah. Jangan lupa sertakan alamat email dan akun&nbsp;</span><em>twitter</em><span>&nbsp;kalian di akhir komentar.</span><br /><br /><span>Juga follow akun&nbsp;</span><em>twitter</em><span>ku, @thesasongkoo, karena pemenangnya akan diumumkan di sana. :)</span><br /><br /><span>Aku akan menunggu sampai hari Rabu, 23 Desember 2015. Salah satu dari kalian yang beruntung, akan mendapatkan novel&nbsp;</span><em>Perfect Pain</em><span>&nbsp;dari penerbit.</span><br /><br /><span>Selamat bercerita, selamat membaca.</span></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Menjadi Penyair]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/menjadi-penyair]]></link><comments><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/menjadi-penyair#comments]]></comments><pubDate>Wed, 09 Dec 2015 07:42:30 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/menjadi-penyair</guid><description><![CDATA[Aku melihatmu dari belakang,saat kita duduk menyaksikanpembacaan puisi.Sejak itu kuputuskan dirikumenjadi penyair.Kutahu,hanya dengan begitu,aku bisa menemuimu,&#8203;lagi.Depok&#8203;Beberapa bulan lalu 2015 [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:left;"><span>Aku melihatmu dari belakang,<br />saat kita duduk menyaksikan<br />pembacaan puisi.<br /><br />Sejak itu kuputuskan diriku<br />menjadi penyair.<br /><br />Kutahu,<br />hanya dengan begitu,<br />aku bisa menemuimu,<br /><br />&#8203;lagi.<br /><br />Depok<br />&#8203;Beberapa bulan lalu 2015</span><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Puisi Terakhir untuk Kenangan 2]]></title><link><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/puisi-terakhir-untuk-kenangan-2]]></link><comments><![CDATA[http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/puisi-terakhir-untuk-kenangan-2#comments]]></comments><pubDate>Tue, 24 Nov 2015 07:37:24 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://ariosasongko.weebly.com/tulisan-pikiran/puisi-terakhir-untuk-kenangan-2</guid><description><![CDATA[&#8203;kusimpan air matamuyang menetes di sela-sela kenanganakan kukembalikanpada pertemuan yang lainsaat aku sudah sanggupmerelakanmu&#8203;RawamangunNovember 2015 [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph" style="text-align:left;"><br /><span>&#8203;kusimpan air matamu</span><br /><span>yang menetes di sela-sela kenangan</span><br /><span>akan kukembalikan</span><br /><span>pada pertemuan yang lain</span><br /><span>saat aku sudah sanggup</span><br /><span>merelakanmu<br /><br />&#8203;<br />Rawamangun<br />November 2015</span></div>]]></content:encoded></item></channel></rss>