<![CDATA[Ario sasongko - BUKU]]>Sat, 12 Mar 2016 03:16:56 -0800Weebly<![CDATA[Review Novel Perfect Pain]]>Thu, 03 Mar 2016 16:29:44 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/buku/review-novel-perfect-pain
Mencintai itu mudah,
namun sejauh apa kamu mau berkorban demi sebuah cinta?

Pertanyaan itulah yang muncul di pikiranku setelah membaca novel Perfect Pain karya Anggun Prameswari.

Novel ini berbicara banyak hal tentang cinta dan kasih sayang. Cinta antara Bidari dan Karel, anaknya, yang harus tegar menghadapi kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Bram, suami Bidari. Selain itu, ada pula jalinan kasih sayang antara Bidari dan Sidhu, seorang pengacara, yang membantu Bidari dalam menghadapi masalahnya.
Pada awalnya, novel ini terkesan akan bercerita mengenai hal yang cukup gelap, kekerasan dalam rumah tangga. Namun, sebagai pembaca, aku bisa menjanjikan bahwa novel ini akan menyuguhkan kisah dan pelajaran yang sangat indah mengenai kasih sayang dan cinta. Berikut ini sedikit alasannya.

​Aku sangat menyukai cara bab-bab awal novel ini menuturkan cerita. 
Di sana, aku bisa ikut merasakan keraguan psikologis Bidari dalam menghadapi Bram. Dalam satu malam, Bram bisa demikian kasar. Namun pada pagi harinya, Bram bisa menjadi sosok suami terbaik, laki-laki yang diidamkan oleh perempuan manapun. Aku juga bisa ikut tersentuh dengan kekuatan cinta yang ditunjukkan Karel, sekaligus sedih membayangkan seorang anak kecil melihat Ibu yang sangat ia cintai disakiti oleh ayahnya sendiri.

Hubungan dan kombinasi karakterisasi tokoh Karel dan Bidarilah yang awalnya membuat aku terikat dengan cerita ini. Sebagai pembaca, sikap peragu Bidari berhasil mengaduk emosi, mampu membuat aku kadang merasa kesal. Kemudian, hal ini dipadukan dengan sikap Karel yang sangat ingin melindungi Ibunya. Hubungan kedua tokoh inilah yang kemudian memberikan semacam harapan padaku sebagai pembaca untuk terus mengikuti cerita dan membayangkan akhir yang bahagia bagi keduanya.

Novel ini mampu menggali karakter para tokohnya dengan sangat dalam. Seperti contohnya tokoh Bidari.  Ternyata ada alasan di balik mengapa Bidari memiliki sikap yang terkesan lemah dan peragu. Melalui interaksi Bidari dengan ayah dan Ibunya, aku kemudian bisa lebih memahami alasan mengapa tokoh Bidari bisa memiliki sikap seperti itu. Kemampuan Anggun Prameswari dalam menciptakan latar belakang karakter yang baik, serta menyampaikannya dalam alur cerita, membuat aku bisa memahami tokoh Bidari sebagai seorang perempuan, seorang ibu, juga sebagai seorang anak. Hebatnya, Anggun bisa dengan baik melakukan hal yang sama pada semua tokohnya.

Aku tak bisa berbicara terlalu banyak, karena hal itu akan mengurangi kejutan-kejutan dan keindahan yang kurasakan ketika pertama kali membaca novel ini.

Perfect Pain, aku agak mengerutkan kening saat pertama kali membaca judul ini. Bagaimana mungkin ada kepedihan yang sempurna? Barangkali aku salah. Barangkali aku ada benarnya. Satu hal yang pasti, aku menutup buku ini dengan sebuah senyuman. Seolah kini aku bisa lebih memahami makna cinta dan kasih sayang.

Mungkin bukan keindahan yang membuat kita bisa memahami cinta.
Mungkin kita membutuhkan kepedihan,
agar kita dapat lebih memahami berharganya perasaan yang Tuhan titipkan pada setiap manusia,
bernama cinta.
 
Selamat bercerita, selamat membaca.
]]>
<![CDATA[Merenungkan Kerinduan (Review novel Kita dan Rindu yang Tak Terjawab)]]>Sat, 27 Feb 2016 05:04:53 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/buku/merenungkan-kerinduan-review-novel-kita-dan-rindu-yang-tak-terjawabSaya antusias sekali ketika dulu mengetahui GagasMedia menerbitkan novel-novel dengan tema Indonesiana. Menurut saya, novel dengan tema Indonesia memiliki sesuatu yang menarik untuk ditawarkan. Terlebih di tengah menjamurnya novel-novel Indonesia dengan tema luar negeri.

Sebagai orang Indonesia, kadang kita menyepelekan hal ini. Saya orang Indonesia, apa sih yang tidak saya tahu tentang Indonesia? 

Ketika membaca novel "Kita dan Rindu yang Tak Terjawab" karya Dian Purnomo ini, terbukti anggapan saya salah dan benar. Anggapan saya salah ketika berpikir saya mengetahui segala hal tentang Indonesia, karena ketika membaca novel ini ada banyak hal yang rupanya tak saya ketahui. Di sisi lain, anggapan saya juga benar, karena novel ini sangat menarik untuk dibaca. Sebuah kisah cinta dan persahabatan dalam balutan tema adat Batak. Berikut ini ulasannya.

Novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Naiza yang mendapat tuntutan menikah oleh kedua orangtuanya. Tuntutan ini menjadi sebuah beban karena kedua orangtua Naiza berharap anaknya menikah dengan laki-laki Batak agar dapat meneruskan adat. Naiza dijodohkan dengan Sydney, seorang pemuda keturunan Batak yang masa depannya terlihat cerah . Naiza selalu mengeluhkan situasinya pada Tantra, sahabatnya sejak kecil-kadang bahkan terlihat lebih dari sahabat . Tantra adalah seorang pemuda cerdas yang sangat perhatian pada Naiza dan sedang melanjutkan studi di Belanda. 

Saya merasa novel ini memiliki unsur cerita yang lengkap. Alur ceritanya disampaikan dengan sangat baik sehingga saya tak bisa berhenti membalik tiap halaman. Konflik utama dalam novel ini terasa sangat kuat, ditambah dengan konflik-konflik tambahan yang semakin memperkuat cerita. Contohnya saja, Naiza dihadapkan pada kondisi kesehatan jantung ayahnya, sehingga membuatnya ingin membahagiakan ayahnya. Juga ada konflik tambahan lain seperti hubungan Naiza dan Tantra yang sangat manis, serta hubungan baik keluarga Naiza dan keluarga Tantra yang membawa dilema.

Karakteriasi tiap tokoh ini disampaikan dengan sangat baik sehingga kita bisa ikut merasakan emosi dan alasan tindakan tiap-tiap tokohnya. Seperti misalnya tokoh Naiza yang kadang membuat saya kesal karena seolah tak berani mengambil sikap tegas atas tuntutan menikah dari kedua orangtuanya. Namun, Naiza rupanya memiliki alasan mengapa ia bersikap seperti itu. Juga melalui tema adat, di satu sisi saya bisa mengerti alasan kedua orangtua Naiza yang ingin menikahkan anaknya dengan Sydney. Namun di sisi lain saya merasa ikut kesal dengan keegoisan mereka. Perpaduan-perpaduan inilah yang membuat saya makin menikmati cerita.

Saya bisa menemukan kisah cinta dan persahabatan Naiza sebagai tokoh utama novel. Saya juga bisa menemukan kisah yang menawarkan nilai-nilai keluarga yang terdapat pada tokoh Tantra dan kedua orangtuanya. Selain itu, saya juga jadi bisa memahami sudut pandang orang tua yang sangat menjaga adat, khususnya Batak, seperti kutipan dialog Ibu Naiza berikut ini.

"Kau tahulah, Nai. Kau ini boru sasada. Cuma satu harta kami ini, kau. Kalau kau tak teruskan adat kami ini, lalu siapa yang mau melanjutkan? Mati sudah Situmorang dari papamu. Tak ada sudah adatnya. Tapi kalau kau kawin sama Batak, masih berlanjut boru Situmorang ini. Masih jadi hula-hula (pihak keluarga dari istri)-nya kita di mata keluarga suamimu nanti. Kita masih dihormati dalam setiap adat Batak. Coba kalau kau kawin sama Sunda atau Jawa atau Manado. Kau ikut adat mereka. Kau dan anak-anakmu tak pernah lagi makan arsik dan ombus-ombus (makanan khas Batak). Lama-lama tak ada acara adat yang kau datangi, anak-anakmu tak kau adati. Berhenti sudah adat kita ini. Habis pula lama-lama Situmorang di muka bumi ini."

Dari kutipan ini, kita bisa melihat bahwa sebenarnya pertimbangan pernikahan satu suku itu, didasarkan pada pertimbangan menjaga tradisi dan adat yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Keinginan menjaga adat menjadi sebuah kebangaan dan hal yang mulia. Bagaimana mungkin Naiza bisa menentang semua ini?

Meski mengangkat tema adat, novel ini jauh dari kesan membosankan. Saya justru merasa novel ini merupakan kisah sehari-hari yang sangat manis. Entah bagaimana saya selalu tersenyum kecil ketika membaca hubungan antara Tantra dan Naiza yang sangat menyenangkan. Tentang hubungan kedua tokoh ini, lebih baik kalian baca sendiri saja ya kelanjutan kisah mereka. Kadang saya juga tersenyum sendiri ketika mengikuti cerita atau membaca dialog tokoh-tokohnya. Seperti contohnya satu bagian di halaman 123 yang membuat saya terdiam sejenak ketika membacanya. 

Setelah selesai membacanya, saya jadi merefleksikan keberagaman dalam sebuah pertanyaan.

Apakah mencintai keberagaman yang diciptakan Tuhan merupakan sesuatu yang salah?

Jawaban atas pertanyaan ini dapat kamu temukan dalam novel Kita dan Rindu yang Tak Terjawab ini.
Kita dan Rindu yang Tak Terjawab
(viii+280 halaman)

Penerbit: GagasMedia
Penulis: Dian Purnomo
Editor: Tesara Rafiantika & Nurul Hikmah
Penyelaras Aksara: Idha Umamah
Penata Letak: Putra Julianto
Desainer Sampul: Agung Nugroho


]]>
<![CDATA[Kutipan novel Rindu yang Membawamu Pulang (1)]]>Wed, 25 Nov 2015 13:36:19 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/buku/kutipan-novel-rindu-yang-membawamu-pulang-1(Novel "Rindu yang Membawamu Pulang" sudah dapat dibeli di toko buku)

Gun mengulurkan tangannya pada Ling. Gadis ini menutup mulutnya, tertawa lebar dan menyambut uluran tangan tersebut. Berdansalah mereka dalam alunan biola yang membawa hati. Mereka menari di bawah purnama malam ini. Jalanan menjelma lantai dansa. Ling terus tersenyum. Ia pandangi mata Gun yang sejak tadi tak lepas menatap wajahnya. Ling dapat merasakan degup jantung di dada Gun. Ia dapat rasakan degup jantung itu bertambah cepat dan hangat. Gun merapatkan tubuhnya. Di dalam batin, Gun berkeinginan untuk meminta waktu berhenti sampai begini saja. Kemudian Gun teringat pada sebuah hal.

“Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, Ling.”
“Tentang apa?”
“Membawamu berdansa di tempat ini. Aku ucapkan janji itu sewaktu menuntun kereta anginku yang sedang rusak. Malam-malam, persis seperti sekarang.”
“Jangan kau mulai jadi buaya lagi kepadaku. Kau ini sungguh punya bakat buaya keroncong.”
“Tidak, Ling. Aku sungguh pernah ucapkan itu pada diriku sendiri.”
“Atas alasan apa kau ingin mengajakku berdansa di sini?”

Jantung Gun menjadi semakin berdebar.
Barangkali inilah saat yang paling baik. Ia yakinkan batinnya. Ia pandangi wajah Ling, gadis idamannya yang sungguh membuatnya jatuh hati. Ia sadar betul dalam dirinya perihal perasaan ini. Ia sadar betul akan sebuah kenyataan bahwa gadis inilah yang sungguh membuatnya gila.

“Aku cinta kau, Ling.”

Diucapkanlah perasaannya itu pada kali pertama. Ucapan ini seperti membawa Ling kembali ke bumi. Kakinya jadi terasa berat dan napasnya menjadi tak baik. Tiba-tiba saja senyuman itu hilang. Tubuhnya kini tak mau menurut pada irama lagu yang masih sanggup ia dengar. Kerisauan datang setelah Ling mendengar apa yang Gun ucapkan padanya. Tiba-tiba saja matanya tak sanggup memandang Gun. Pemuda ini menyadari perubahan dalam diri Ling. Firasatnya mengatakan kalau keadaan akan menjadi tak baik.

“Ucapanmu itu terlalu jauh, Gun.”
Ling melepaskan dirinya. Ia berhenti di sana, berdiri dan hanya menatap Gun.
“Mengapa berhenti? Kalian ingin lagu yang lain?”
Para pemain musik itu rupanya menyadari keadaan ini.
“Tidak. Kami ingin segera pulang. Terima kasih atas permainan musik kalian.”
Ling lekas berjalan setelah mengucapkan itu. Gun kini mencoba menyusulnya dengan menuntun kereta angin.

“Ling, apa ada yang salah dengan ucapanku?”
“Aku ingin sendiri, Gun.”
“Ling, tunggulah! Tak baik kau berjalan sendiri pada malam begini. Biar kau kuantar.”
“Terima kasih banyak. Tapi, aku sedang tak ingin membicarakan ini. Aku ingin sendiri.”
“Baiklah, aku takkan mengajakmu bicara. Tapi, paling tidak beri aku izin mengantarmu sampai tempat yang baik.”
Ling menghentikan langkahnya.
“Maaf, sekali lagi aku merepotkanmu.”

Ling menaiki kereta angin itu. Malam ini menjadi dingin. Mereka tak mengucapkan apa pun juga dalam perjalanan ini. Kini Gun merasa Ling berada jauh sekali. Ia berada terlalu jauh sampai Gun tak sanggup menemukan keberadaannya lagi. Hati Gun menjadi berat, ia rasa malam ini tidurnya takkan nyenyak.

Ling meminta turun pada tempat yang ia anggap sudah baik untuk berjalan kaki. Tak seperti biasanya, Ling hanya mengucapkan terima kasih tanpa menatap Gun sama sekali. Ling berjalan pergi dalam malam. Gun memandangi gadis itu, yang kemudian hilang pada sebuah perempatan. Gun mendapati dirinya kini seorang diri saja. Meratap pada langit.

​Rasa kecewa muncul dan menyeruak begitu saja dalam batinnya. Malam itu, Gun tenggelam dalam sebuah perasaan yang tak baik. Batinnya menjadi diam dan tanpa ia sadari, matanya mulai menggenang. Satu tetes jatuh persis di lengannya. Air hujan. Malam ini berganti begitu saja. Langit yang demikian cerah pada akhirnya menurunkan hujan. Dalam hujan itulah kemudian Gun menangis. Ia bersandar pada langit yang seperti mengerti betul perasaannya. Air matanya kini menyatu bersama hujan. Ia selimuti kesedihan dalam dirinya di balik malam. Luruh sudah rambutnya yang telah ia tata rapi itu. Kembalilah Gun menjadi dirinya, seorang yang tak patut dipersatukan dengan seorang Tionghoa.

(Novel Rindu yang Membawamu Pulang, sudah dapat dibeli di toko buku terdekat.)

​Kita pernah berhenti di persimpangan jalan yang hampir membuat kita menyerah.
Berkali-kali aku mencoba menepismu, menamaimu cinta yang tak tentu arah.

Benarkah kita tak bisa memberi kesempatan pada sesuatu yang tak akan pernah sama?
Aku tak paham banyak tentang cinta, tetapi bukankah kita hanya perlu merasakannya?

Mereka bertemu di antara perbedaan. Bagi Gun dan Ling, cinta tak pernah mudah dimengerti. Tidak juga mudah dimiliki. Bertahan dalam ketidakpastian membuat mereka ingin menyerah walau tak pernah sanggup saling melepaskan. Atas nama dua hati yang saling mencintai, keduanya berpegang pada janji yang tak sempat terucap. Bentangan jarak dan waktu bukan halangan. Rindu akan membawa pulang.

Namun, masih cukupkah rindu yang mereka miliki?

Penulis: Ario Sasongko
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 240 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-844-0
Harga: Rp 56.000,-
]]>
<![CDATA[Catatan Kaki tentang Perbedaan]]>Fri, 06 Nov 2015 13:05:12 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/buku/catatan-kaki-tentang-perbedaan(Di balik novel Rindu yang Membawamu Pulang)

Malam itu, sekitar pukul 10, aku mengajak Ayahku berbicara di ruang tamu. Kukatakan padanya bahwa aku ingin berhenti bekerja kantoran dan ingin menjadi penulis. Tatapannya resah. Dari semua keputusan hidup yang kuambil, baru kali ini ia terlihat demikian resah.

Menjadi penulis, mengapa aku ingin melakukannya?

Semua berhubungan dengan ide tentang novel pertamaku "Rindu yang Membawamu Pulang." Aku harus mengajakmu sedikit ke belakang, beberapa bulan sebelum malam di ruang tamu tersebut.
Ada apa dengan perbedaan? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja dan mengganggu pikiranku. Banyak peristiwa yang membuatku bertanya-tanya. Mengapa perbedaan harus menjadi alasan mereka untuk saling membenci? Mengapa perbedaan menjadi alasan untuk menyakiti satu sama lain? Apakah salah seseorang yang lahir dalam ras, suku, atau agama tertentu, sehingga ia layak dibenci? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku menyadari bahwa aku sangat membenci konflik akibat perbedaan ras, suku, dan agama.

Permasalahannya, kebencian yang didasari oleh perbedaan adalah hal yang masih terjadi di negeri ini.

Saat itu aku merasa harus melakukan sesuatu. Aku sadar bahwa aku bukan seorang yang memiliki banyak bakat. Sejak kecil hanya ada satu kemampuan yang aku miliki, menulis. Kupikir, hanya dengan menulislah, aku bisa melakukan sesuatu.

Saat itu ide tentang novel ini masih belum muncul. Aku hanya memiliki keresahan yang tenggelam dalam rutinitas bekerja sehari-hari. Aku selalu disibukkan dengan klien, acara-acara kantor, serta kesibukan lain yang menjadi tanggung jawabku. Namun, keresahan itu masih ada, keresahan untuk menulis. Saat itulah, aku menyadari bahwa aku sudah lebih dari dua tahun meninggalkan dunia menulis.

Terkadang memang kita baru menyadari apa yang kita cintai, setelah kita jauh darinya.
Dengan tidak menulis selama itu, aku jadi menyadari bahwa aku sangat merindukan menulis. Rupanya memang demikianlah kehidupan. Ia membawaku pergi jauh dari dunia menulis, hanya untuk mengingatkanku bahwa aku sangat mencintai menulis. Saat itu aku baru menyadari betapa pentingnya arti sebuah kegiatan sederhana bernama menulis, untuk hidupku. Hanya dengan menulis aku merasa bisa memberikan arti bagi hidupku dan orang-orang yang membaca tulisanku kelak.

Ada banyak kisah tentang perbedaan yang sudah dituliskan, atau difilmkan. Namun, semua kisah itu belum bisa menjawab pertanyaanku, mengapa harus ada perbedaan di negeri ini?

Pertanyaan tersebut yang kemudian memberikan ide tentang kisah cinta Ling dan Gun (tokoh-tokoh dalam novelku ini). Melalui mereka, aku ingin mencari tahu penyebab perbedaan di negeri ini. Di sela-sela kesibukan kantor, aku banyak membaca. Aku terpesona dengan penggambaran keindahan Batavia di masa lalu. Kota itu demikian indahnya, hingga mendapat julukan "Ratu dari Timur" oleh orang-orang Eropa. Tiba-tiba aku membayangkan kisah cinta di sebuah kota yang sangat indah. Memikirkannya saja, saat itu aku sudah terbayang sebuah kisah cinta yang romantis antara Ling dan Gun.

Ya, saat itu lahirlah ide utuh tentang novel ini: Kisah Ling seorang Tionghoa dan Gun seorang Pribumi, di kota Batavia yang begitu indah. Melalui kisah ini, aku ingin menunjukkan indahnya kisah tentang perbedaan. Aku ingin menjelaskan mengapa perbedaan antara "pribumi" dan "keturunan Tionghoa" bisa terjadi di Indonesia. Serta tentu aku ingin menceritakan kisah cinta yang romantis antara Ling dan Gun di kota Batavia, Ratu dari timur.

Satu hal lain yang akhirnya kupahami ketika menulis novel ini, rupanya Tuhan menciptakan cinta, bukan tanpa alasan. Cinta adalah jawaban untuk menyatukan perbedaan. Cinta tak akan pernah memedulikan rasmu, sukumu, agamamu, asal-usulmu. Saat dua orang saling mencintai, mereka tak akan merasa berbeda. Mereka akan merasa satu. Cinta adalah kekuatan yang menyatukan kita. Keluarga ada karena cinta. Sahabat ada karena cinta. Atau misalnya, kecintaan kita pada negeri inilah yang membuat kita bersatu sebagai seorang Indonesia.

Aku sadar, butuh banyak riset dan kerja keras untuk mengerjakan novel ini. Jika aku mengerjakannya hanya seperempat waktu, rasanya novel ini tak akan selesai. Saat itulah, akhirnya aku mengambil keputusan, barangkali keputusan penting dalam hidupku. Aku memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran. Aku sampaikan niatku ini pada Ayahku, malam itu di ruang tamu pukul 10. Ia resah. Baru pertama kali aku melihat matanya seresah itu. Namun akhirnya ia bisa menerima keputusanku.

Butuh waktu yang sangat panjang untuk mengerjakan novel ini. Aku tahu bahwa dengan mengambil latar tempat di Batavia, ada banyak riset yang harus aku lakukan. Aku melakukan riset sampai 1 tahun, hanya membaca, mencatat, dan belum menulis sama sekali. Setelah merasa cukup, akhirnya aku menulis cerita ini selama beberapa bulan. Jadi jika ditotalkan, novel "Rindu yang Membawamu Pulang" ini membutuhkan waktu hampir 1,5 tahun untuk membuatnya.

Saat itu, dan sampai hari ini, aku percaya bahwa sebenarnya semua orang bisa menulis. Namun tak semua orang berani melakukannya dan menjadi penulis. Hanya terima kasih pada Tuhan, yang bisa kusampaikan, karena ia menitipkan keberanian itu padaku.

Kuharap novel ini bisa membuat kita semua mencintai perbedaan.

Tak hanya itu, novel ini juga merupakan pesan untuk para pembaca di luar sana. Dengan terbitnya novel ini, aku ingin menunjukkan bahwa terkadang kita harus berani dalam melakukan sesuatu. Segalanya bisa kita capai asalkan kita berani untuk melakukannya. Siapalah hidup, yang bisa mengatur kita untuk melakukan apa.

Aku juga  ingin mengucapkan terima kasih pada GagasMedia karena telah memberikan kesempatan padaku untuk menerbitkan novel ini. Bagiku, kesempatan ini adalah sebuah kepercayaan yang sangat berharga, dukungan yang sangat kubutuhkan.

Semoga kerja kerasku dan GagasMedia dalam menerbitkan novel ini bisa diapresiasi dengan baik oleh kalian, para pembaca.

Oh ya, jangan lupa, ada banyak pihak yang bekerja keras siang-malam dalam proses penerbitan sebuah buku. Dengan membeli buku yang asli, secara langsung kamu telah memberi dukungan pada penulis dan penerbit untuk menerbitkan buku-buku selanjutnya. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam membeli, jangan beli buku/download PDF bajakan. :)

Selamat membaca, selamat menulis!

November 2015
Ario Sasongko
Kita pernah berhenti di persimpangan jalan yang hampir membuat kita menyerah.
Berkali-kali aku mencoba menepismu, menamaimu cinta yang tak tentu arah.

Benarkah kita tak bisa memberi kesempatan pada sesuatu yang tak akan pernah sama?
Aku tak paham banyak tentang cinta, tetapi bukankah kita hanya perlu merasakannya?

Mereka bertemu di antara perbedaan. Bagi Gun dan Ling, cinta tak pernah mudah dimengerti. Tidak juga mudah dimiliki. Bertahan dalam ketidakpastian membuat mereka ingin menyerah walau tak pernah sanggup saling melepaskan. Atas nama dua hati yang saling mencintai, keduanya berpegang pada janji yang tak sempat terucap. Bentangan jarak dan waktu bukan halangan. Rindu akan membawa pulang.

Namun, masih cukupkah rindu yang mereka miliki?

Penulis: Ario Sasongko
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 240 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-844-0
Harga: Rp 56.000,-

]]>
<![CDATA[Ucapan Terima Kasih (Rindu yang Membawamu Pulang)]]>Tue, 03 Nov 2015 08:33:54 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/buku/ucapan-terima-kasih-rindu-yang-membawamu-pulangSemua orang bisa menulis, tapi tak semua orang berani melakukannya. Oleh karena itu, ucapan terima kasih terbesar kuberikan kepada Tuhan, atas keberanian yang Ia titipkan padaku.

Terima kasih pula kuucapkan pada Ayahku atas tatapan resahnya di ruang tamu, saat pertama kusampaikan niatku untuk berhenti bekerja di kantor demi menulis. Juga terima kasih pada Ibuku, atas doanya yang ia panjatkan untukku tiap kali ia terbangun di malam hari.

Buku ini juga kutujukan untuk teman-temanku, mereka yang percaya bahwa aku

bisa menulis. Semangat dan dukungan kalian adalah kekuatanku untuk maju.

Terima Kasih pada teman-temanku, keluarga besar jurusan film 03.  Perkembangan kalian adalah motivasiku untuk bisa terus maju. Semoga suatu hari kita bisa berkumpul dan tersenyum menatap keberhasilan kita masing-masing. Juga kepada teman-temanku di jurusan Susastra, Cultural Studies, dan Kajian Tradisi Lisan. Senang bisa berbagi 2 tahun kemarin bersama kalian. Semoga pertemanan kita tak akan selesai sampai di sana. Terima kasih pula pada kamerad di bomcerpen.com, pada para dewan, dan para kontributor. Terima kasih pula untuk teman-temanku di flux and play dan Blackrock Entertainment,

Serta sepasang mata yang menyaksikan perjalanan ini tanpa keraguan sama sekali, terima kasih, Prilia Herdianty.

Terima kasih pula, dengan sepenuh hati, kutujukan kepada teman-temanku di GagasMedia. Mbak Resita dan Mbak Iwid, atas pertemuan pertama kita di TIM ketika awal membahas buku ini. Terima kasih pula kutujukan pada dua editor buku ini, yang sangat hebat, Erni dan Tesara. Terima kasih atas kerja keras teman-teman yang terlibat dalam proses pembuatan buku ini.

Terima kasih, saya ucapkan kepada guru-guru bahasa Indonesia saya ketika masih sekolah dulu.

Terima kasih pula pada 4 guru menulis saya, yang mengajar dengan cara mereka masing-masing: Marselli Sumarno, Seno Gumira, Armantono. Serta satu orang teman yang mengenalkan saya dengan dunia menulis, Andi. Khusus untuk Andi ini, saya akan terus berharap agar suatu hari ia bisa kembali menulis.

Buku ini adalah awal dari langkah yang masih sangat panjang. Perjalanan yang berat tak berhenti hanya sampai di sini.

Dalam perjalanan ini, serta keputusan hidup yang saya ambil, pasti ada saja orang-orang yang merendahkan pilihan hidup saya. Tentu ada saja orang-orang yang menganggap saya remeh, merasa pekerjaan sebagai penulis tak akan menghasilkan apa-apa, meski tak mereka sampaikan langsung pada saya.

Namun, saya tak pernah menghabiskan satu detikpun dari hidup ini untuk orang seperti mereka. Saya menjalani hidup, berjuang, dan menulis, demi kalian, keluarga, sahabat, orang-orang yang percaya pada kemampuan saya. Saya menulis demi kalian, orang-orang yang percaya dan berharap agar saya bisa mencapai apa yang saya cita-citakan melalui tulisan.

Ya, saya adalah penulis.
]]>
<![CDATA[(NOVEL) Rindu yang Membawamu Pulang]]>Tue, 03 Nov 2015 08:33:20 GMThttp://ariosasongko.weebly.com/buku/novel-rindu-yang-membawamu-pulang
Kita pernah berhenti di persimpangan jalan yang hampir membuat kita menyerah. Berkali-kali aku mencoba menepismu, menamaimu cinta yang tak tentu arah.

Benarkah kita tak bisa memberi kesempatan pada sesuatu yang tak akan pernah sama? Aku tak paham banyak tentang cinta, tetapi bukankah kita hanya perlu merasakannya?

Mereka bertemu di antara perbedaan. Bagi Gun dan Ling, cinta tak pernah mudah dimengerti. Tidak juga mudah dimiliki. Bertahan dalam ketidakpastian membuat mereka ingin menyerah walau tak pernah sanggup saling melepaskan. Atas nama dua hati yang saling mencintai, keduanya berpegang pada janji yang tak sempat terucap. Bentangan jarak dan waktu bukan halangan. Rindu akan membawa pulang.

Namun, masih cukupkah rindu yang mereka miliki?

Penulis: Ario Sasongko
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 240 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-844-0
Harga: Rp 56.000,-

]]>